Meski Masih Muda, Bisnisnya Sudah Capai Rp 150 Juta Perbulan

72

EDISIMEDAN.com, MEDAN: Bermoto ‘Kenali Potensi Diri dan Jalankan’, Sarah Agnestika (22 tahun) sukses dibisnis kuliner. Bisnis kuliner yang lagi hits di Kota Medan miliknya berhasil meraup keuntungan yang cukup manis yakni Rp 150 juta/bulan.

Untuk perempuan se usianya, ini merupakan prestasi yang luar biasa. Karena kebanyakan di usia muda sepertinya memperoleh Rp 150 juta/bulan mungkin masih mimpi yang akan diraih.

Berkat Konsistensinya, Sarah Agnestika, anak dari pasangan Benny Sihotang dan Dame Duma Sari Hutagalung ini dalam setahun sudah memiliki 3 gerai Crunchy Banana yang tersebar di Kota Medan.

Berdasarkan pengakuanya, Berbisnis memang kesukaannya sudah sejak lama. Awalnya ia memulai usaha jualan pakaian yang dia pasok dari Bangkok, Thailand, namun, sulitnya prosedur yang harus dijalani belakangan hari, membuatnya memutuskan menghentikannya dan kemudian berfikir untuk membuka bisnis yang baru sesuai dengan kesukaannya.

“Lalu saya mencari apa ya usaha yang cocok untuk dijual dan modalnya nggak gede? Saya lalu memutuskan mencoba olahan pisang. Coba cari resep di YouTube, Google, itu mulai bulan Juni 2017, intinya bagaimana supaya produknya enak. Tapi pas dicoba malah nggak enak. Apa lagi memang Sarah nggak bisa masak,” ujarnya saat berbincang belum lama ini.

Tidak putus asa, Sarah terus melakukan percobaan, hingga anak ke dua dari tiga bersaudara ini menemukan cara agar pisang olahannya menjadi enak.

Pisang Jenis Kepok tidak lagi dikukus melainkan digoreng, menurutnya jika dikukus, pisang akan menjadi kenyal sedangkan digoreng, selain rasa pisangnya tidak hilang, cita rasanya lebih enak dan crunchy.

Sebagai pelengkap dan buat penasaran konsumennya, dia lalu mencoba berbagai topping. Sayangnya, harga modalnya terlalu mahal. Terus mencari, dia lalu akhirnya mendapatkan bahan coklat yang harganya terjangkau namun rasanya enak, tetapi dengan diolah lagi.

Punya resep enak, iseng-iseng, dia mendesain logo memanfaatkan telepon pintar (smartphone) miliknya dengan mengunduh sejumlah aplikasi. Hasilnya didapat logo. Dia pun lalu memesan kotak kemasan dengan mencantumkan logo hasil kreasinya. Praktis, di awal, dia hanya mengeluarkan modal sebesar Rp1,5 juta.

“Awalnya cuma buat satu bal kotak isinya 500 lembar. Lalu saya inisiatif jual makanan itu di kampus pakai mobil waktu semester lima, lalu saya buat akun Instagram (Crunchy Banana Medan). Pertama pelanggannya dari teman dulu, lalu mereka coba posting di Instagram mereka. Pelanggan bertambah, saya lalu buka orderan, ajak teman-teman kampus karena semakin kewalahan, pesanan mulai banyak, 50 kotak satu hari,” ucap mahasiswa semester VII, Fakultas Hukum, Program Studi (Prodi) Hukum Perdata, Universitas Sumatera Utara (USU) tersebut.

Kemudian, karena orderan makin tinggi, gadis berwajah cantik ini memutuskan untuk menghentikan usaha di kampus dan membuka usaha di rumah ibunya di Komplek Griya Riatur Medan.

Namun sebelumnya, dia mendaftarkan produk Crunchy Banana ke perusahaan jasa antar makanan milik ojek online Grab dan Go-Jek. Langkahnya berhasil, konsumen semakin bertambah. Sayangnya, prosedur keluar-masuk komplek yang agak ketat membuatnya harus memikirkan pindah ke tempat lain sembari mengurusi label halal.

“Saya sempat nggak mau pindah, takut langganan malah akan menurun. Apalagi kan orang gak boleh sembarangan masuk ke dalam komplek. Tapi akhirnya saya memutuskan pindah ke ruko yang kebetulan punya mama di Jalan Kapten Muslim, bulan November 2017. Pelanggan malah semakin ramai. Saya sampai disarankan buka di tempat lain,” ucap Sarah.

Dengan keuntungan yang dia kumpulkan, Sarah memutuskan buka cabang di kawasan Medan Marelan, Februari 2018. Tidak di situ saja, membayar sisa kontrak ruko (over contrast) dengan pedagang mie Aceh di Jalan Setia Budi, dia lalu membuka gerai cabang baru sebulan setelahnya, Maret 2018.

Karyawan pun semakin bertambah. Saat ini 16 orang dia pekerjakan di tiga tokonya. Dari tiga gerai tersebut, rata-rata 700 kotak per hari laku terjual. Toko di Marelan paling sedikit laku yakni 100 kotak/hari.

Pemesanan kotak kemasan pun semakin banyak. Hampir setiap pekan, dia memesan 10 ribu kotak. Untuk pisang, setiap harinya 1000 sisir pisang kepok yang dipesan, biasanya ludes dalam waktu lima hari. Namun lantaran sudah bekerja sama dengan agen, Sarah mengaku tidak kekurangan bahan baku. Jika untuk tiga gerai dia mempekerjakan 15 karyawan, untuk pematangan pisang, Sarah juga mempekerjakan dua orang yang bekerja di tempat penyimpanan di rumah ibunya di Komplek Griya Riatur.

Kini, Sarah mengaku dalam sebulan, omset dari tiga gerainya bisa mencapai Rp300 juta sampai Rp400 juta. Soal keuntungan, gadis muda ini bisa mengantongi keuntungan minimal Rp150 juta. Bahkan, Crunchy Banana miliknya menjadi top 25 makanan paling laris di Kota Medan jika dilihat dari banyaknya pesanan lewat Go-Jek.

Dari empat varian rasa dan aneka topping yang ditawarkan Crunchy Banana, Sarah mengaku rasa coklat dan coklat keju jadi yang paling laris. Sementara untuk harga produk, dibanderol mulai Rp26 ribu hingga Rp 31 ribu.

Tidak puas sampai di situ, Sarah mengaku akan terus berinovasi. Dan berencana membuka gerai baru. Sarah bercita-cita untuk mendirikan tempat makan.

“Mau buka tempat makan tapi nabung dulu. Memikirkan Sarah itu gak bisa satu aja karena gak tahu pasang-surutnya seperti apa,” tandasnya. (Mahbubah Lubis)

 

Apa Tanggapan Anda?