Home / BISNIS / Pahami Risiko Investasi, Sebelum Membeli Saham

Pahami Risiko Investasi, Sebelum Membeli Saham


EDISIMEDAN.com, JAKARTA:  Tertarik berinvestasi di saham? Apalagi jika bisa melipatgandakan dana investasi seperti yang dilakukan para pesohor tanah air. Baru-baru ini, marak bermunculan influencer yang menayangkan kesuksesan mereka berinvestasi di saham.

Bahkan, tidak sedikit yang menunjukan portofolio saham yang mereka miliki. Hal tersebut tanpa disadari memberi pengaruh kepada warganet untuk ikut membeli saham seperti yang para selebritas miliki.

Di satu sisi, pengaruh aksi para influencer ini sebetulnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan awareness masyarakat akan peluang investasi di pasar modal. Terlebih selama ini, data pertumbuhan jumlah investor di pasar modal masih tergolong rendah. Data total jumlah investor di pasar modal hingga tahun 2021 dibandingkan dengan total jumlah penduduk masih berada di bawah angka 5%, walaupun sudah mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini berarti baru hanya kalangan terbatas saja yang dapat menikmati keuntungan berinvestasi di pasar modal.

Baca Juga:  Kualitas Pekerjaan di Sumut Tak Memuaskan, Tengku Erry Tegur Investor China

Perlu diingat bagi para milenial, terutama sebagai calon investor agar sebaiknya tidak serta merta terpengaruh membeli saham atas dasar ikut – ikutan portfolio yang dimiliki para selebritas. Mengapa demikian? Penting untuk diketahui bahwa berinvestasi tidak terlepas dari risiko yang harus dicermati. Apapun jenis produk investasinya, tidak ada investasi yang tanpa risiko. Semakin tinggi potensi keuntungan, semakin tinggi pula risiko investasi yang mengikuti (high return, high risk), demikian hal sebaliknya.

Risiko dari investasi saham sendiri dapat dikatakan termasuk dalam katagori tinggi. Secara garis besar, beberapa risiko dalam berinvestasi saham dapat dijelaskan dalam 3 (tiga) jenis risiko.

Pertama, risiko capital loss, yakni kerugian dari hasil jual/beli saham yang dihitung dari selisihantara nilai jual yang lebih rendah daripada nilai beli saham. Misalnya, seorang investor membeli saham PT ABC di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui sistem perdagangan online di salah satu perusahaan sekuritas. Saham PT ABC dibeli pada harga Rp1.000,- per lembar saham.

Baca Juga:  Cari Gudang Paling Murah di Medan? Simak Info Berikut Ini

Dengan minimal pembelian saham sebanyak 1 lot yaitu 100 lembar saham, jika investor membeli 10 lot saham, maka modal investasi menjadi sebesar Rp1 juta.

Kemudian, apabila dalam satu tahun kedepan harga saham mengalami penurunan harga menjadi Rp900,- per lembar, dengan demikian investor mengalami capital loss atau kerugian sebesar 10%, atau total modalnya berkurang dari Rp1 juta menjadi Rp900 ribu.

Sebaliknya, apabila harga saham mengalami kenaikan menjadi Rp1.100,- per lembar saham, dengan demikian investor mengalami capital gain, atau keuntungan dari modal yang diinvestasikan.

Maka dari itu, apabila ada seorang influencer menyebutkan saham yang dibeli harganya naik dan menguntungkan, sebaiknya investor tidak terburu-buru ikut membeli saham tersebut, atau paling tidak cari tahu dulu bagaimana kinerja perusahaan itu di masa depan.

Apakah secara fundamental potensi peningkatan harganya wajar, atau sebaliknya akan ada risiko penurunan harga secara mendadak. Tidak hanya itu, perlu diwaspadai fluktuasi harga saham yang hanya dipengaruhi semata-mata karena faktor permintaan dan penjualan di pasar saham.(red)

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up