Home / BISNIS / Eksekutif Muda Terancam Miskin di Hari Tua

Eksekutif Muda Terancam Miskin di Hari Tua


Presiden Director PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Legowo Kusumonegoro saat memberikan presentasi pentingnya persiapan hari tua kepada peserta di Kantor Pemasaran Manulife Medan, Kamis (16/10/2014). [Foto: Ari]

EDISIMEDAN.com, MEDAN – Sebuah survey yang dilakukan Manulife Investor Sentiment Index (MISI) pada akhir tahun 2014, menunjukkan bahwa para pekerja profesional atau para eksekutif muda di Indonesia terancam miskin di hari tua.

Ini disebabkan, para responden yang terdiri dari  Manager, Eksekutif dan Businessman (PMEB) dengan gaji minimal Rp 10 juta/bulan tidak punya persiapan keuangan di hari tua sehingga mereka akan terancam miskin di hari tua pada saat masuk usia pensiun.

Data terakhir Manulife Investor Sentiment Index (MISI) menunjukkan optimisme yang tinggi mengenai rencana pensiun serta pandangan masyarakat terhadap pasar investasi. Lebih dari tiga perempat investor sangat optimis dapat mempertahankan gaya hidup mereka saat pensiun.

Akan tetapi sekitar 97% di antaranya masih yakin akan memiliki penghasilan pasca-pensiun kendati hanya setara 84% penghasilannya sebelum pensiun.

Sementara 43% lainnya sudah menyiapkan masa pensiunnya dan 34% uang mereka disimpan dalam bentuk tabungan dan deposito bank yang memberikan imbal hasil relatif kecil.

Dari data tersebut, diperkirakan analis Manulife, dari hasil survei terbarunya itu, masyarakat Indonesia terancam miskin di hari tua. Hal itu karena dibalik optimisme yang tinggi, masih banyak ditemukan rencana pensiun serta pandangan investasi yang masih belum tepat.

Baca Juga:  Tukang Sebar Brosur Itu, Kini Menjadi Sosok Paling Berpengaruh di Asia

“Optimisme semu ini diperkirakan terus mengemuka jika derajat melek keuangan masyarakat tidak segera ditingkatkan dan investor masih enggan menggunakan lebih banyak kendaraan investasi yang tersedia di pasar,” ujar Director of Business Development, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Putut Endro Andanawarih, kepada media di Medan, Jumat (16/10/2014).

Jadi, jika memiliki dasar yang lebih dalam, tabungan akan menyumbang paling tidak 26% dari anggaran pensiun mereka nanti. Penghasilan dari pekerjaan pasca pensiun pun menjadi opsi sumber dana dengan kontribusi sebesar 18% dan lainnya. Padahal, ketersediaan sumber-sumber dana tersebut dipengaruhi banyak faktor.

Seperti tabungan yang sudah direncanakan bisa saja tidak lebih cepat pertumbuhannya dari laju inflasi. Bahkan bisa kehilangan nilainya pelan-pelan karena gerusan inflasi. Disamping itu, mencari kerja di usia tua bukanlah hal mudah karena pertimbangan kesehatan dan kondisi industri yang berubah. Untuk bergantung sumber lain juga bukan hal yang tepat karena unsur ketidakpastian.

Dari survei itu, hanya 22% responden mengikuti program pensiun yang diwajibkan pemerintah. Angka itu jauh lebih rendah daripada angka rata-rata di Asia sebesar 67%. Sayangnya, masyarakat Indonesia juga tidak tertarik untuk membeli program pensiun tambahan sebagai alternatif. Hanya 15% orang Indonesia memiliki program pensiun dari institusi swasta untuk memenuhi target dana pensiun.

Baca Juga:  Pengusaha Medan Memilih Hidup Mewah Ketimbang Sejahterakan Karyawan

“Masyarakat sepertinya terlalu mengandalkan sumber-sumber pendanaan yang tak pasti untuk membiayai hidup mereka di hari tua,” kata Chief of Employee Benefits, PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Nur Hasan Kurniawan.

“Ada kekhawatiran bahwa ekspektasi mereka tidak sesuai dengan yang diharapkan. Terlebih lagi hanya sedikit masyarakat mengikuti program pensiun yang diwajibkan pemerintah atau yang berupaya untuk memperkecil kesenjangan itu dengan membeli program pensiun dari institusi swasta,” tambahnya.

Direktur Pengembangan Bisnis PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Putut E Andanawarih, menjelaskan program-program persiapan pensiun dari pemerintah dan swasta. [Foto: Ary]
Direktur Pengembangan Bisnis PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Putut E Andanawarih, menjelaskan program-program persiapan pensiun dari pemerintah dan swasta. [Foto: Ari]
Tingkat Literasi Rendah
Sementara itu, tingkat melek produk keuangan masyarakat Indonesia masih memperihatinkan. Menurut riset yang dilakukan OJK, saat ini indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru 21,8%. Artinya, dari 240 juta jiwa penduduk Indonesia, baru 52 juta jiwa saja yang benar-benar memahami industri keuangan dan produk jasa keuangan.

Dari enam produk keuangan yang tersedia, baru bank yang cukup dikenal masyarakat (57,28%). Hasil riset OJK juga menunjukkan, tingkat pemahaman paling rendah terdapat di pasar modal, yakni hanya 0,11%. Sisanya hampir merata di sektor perasuransian (11,81%), lembaga pembiayaan (6,33%), pergadaian (5,04%), dana pensiun (1,53%).

Baca Juga:  PT Pegadaian Kanwil I Medan Optimis Capai Target Tahun Ini.

Belum meratanya tingkat literasi keuangan masyarakat menjadi penyebab belum meratanya tingkat utilitas keuangan. Riset OJK juga memperlihatkan kalau masyarakat masih memilih pola tradisional dalam menyimpan uang.

Masyarakat masih memilih menyimpan uang dalam bentuk tunai. Rendahnya tingkat utilitas dana pensiun ditengarai karena tingkat literasi dana pensiun juga masih rendah. Kesadaran masyarakat terhadap perlunya perencanaan pensiun juga masih rendah, tercermin dari separuh responden yang tidak memiliki perencanaan masa pensiun.

Padahal, banyak cara berinvestasi dan mempersiapkan dana pension. Seperti saham, reksadana, investasi pendapatan tetap, properti, program pensiun dan sebagainya. Semakin awal dimulai beban rutinnya akan semakin ringan.

Untungnya di Medan, menurut Emma Gunawan Sales Director Divisi Medan, masyarakat yang memulai gaya dan perencanaan keuangannya terlihat semakin muda. “Mereka sepertinya semakin paham,” ujarnya.

Sebelumnya, Legowo Kusomonegoro Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia, mengatakan, MISI sengaja digelar Manulife guna melihat kecenderungan masyarakat dalam mengelola aset.  [ray]

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up