Pemilukada Sumut, Damai dan Beritegritas #OPINI

68
Presiden Mahasiswa USU, Wira Putra
Oleh: Wira Putra 
Presiden Mahasiswa USU

PESTA DEMOKRASI lima tahunan sedang berlangsung di berbagai daerah di Indonesia dan juga terjadi di Provinsi Sumatera Utara. Provinsi Sumatera Utara juga menjadi penyelenggara Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) serentak pada tahun 2018, ada 9 Pemilukada yang dilaksanakan di Provinsi Sumatera Utara yang terdiri dari 1 Pemilihan Gubernur (Pilgub), 1 Pemilihan Walikota (Pilwako) dan 7 Pemilihan Bupati (Pilbup).

Kabupaten/Kota yang akan menyelenggarakan Pemilukada itu adalah Kabupaten Deli Serdang, Langkat, Batubara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Tapanuli Utara, Dairi dan Kota Padang Sidimpuan, plus satu pemilihan gubernur.

Masa kampanye secara resmi sudah dimulai sejak 15 Februari dan akan berlangsung sampai 23 Juni 2018 mendatang. Empat bulan lebih paslon akan beradu argument, melakukan blusukan untuk menyampaikan visi, misi, dan program guna meyakinkan masyarakat Sumatera Utara agar menggunakan hak suaranya dan memilih paslon pada hari pemungutan suara Rabu, 27 Juni mendatang.

Tujuan utama dari kampanye merupakan upaya untuk meyakinkan orang lain, dan melakukan pendidikan politik terhadap masyarakat kenapa harus menggunakan hak pilihnya.

Sumatera Utara merupakan miniaturnya Indonesia. Jika ingin melihat keragaman Indonesia, maka lihatlah Sumatera Utara yang terdiri dari banyak suku, agama, ras, budaya, etnis dan juga yang lainnya. Damainya Indonesia dengan keberagamannya, tak luput dari sumbangsih Sumatera Utara bagaimana bisa menjaga keanekaragaman yang dimililki saat ini.

Di Sumatera Utara kita sudah terbiasa hidup rukun walaupun berbeda suku dan agama, bisa menghargai walaupun berbeda bahasa, bisa saling memaafkan jika ada yang membuat kesalahan. Sangat tidak tepat jika ada yang ingin merusak kerukunan dan keberagaman Sumatera Utara melalui Pemilukada yang akan diselenggarakan beberapa waktu lagi.

Membuat perpecahan di Sumatera Utara dengan ‘menjual dagangan’ dengan isu SARA diyakini tidak akan laku untuk dijual di Sumatera Utara. Sebaiknya, politik gagasan dan perdebatan seputar program-program pembangunan dirasa lebih bermanfaat untuk dibahas dibandingkan dengan politisasi SARA.

Perdebatan semacam ini juga harus dipupuk mulai saat ini dari level masyarakat sehingga diharapkan dapat menggeser isu-isu SARA yang dapat memicu tindakan intoleransi seperti ujaran kebencian yang terjadi di sosial media maupun di masyarakat. Disamping itu, dengan mengedepankan program dan gagasan, proses kampanye dinilai lebih elegan dan berkualitas karena dapat mencerdaskan para pemilih.

Bagaimanapun, semua pihak harus mendorong agar setiap Paslon ‘menjual dagangan’ politik gagasan dan adu program. Jangan sampai Pemilukada justru dipenuhi oleh bibit kebencian, yang sengaja dimunculkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Upaya ini harus sedini mungkin dicegah, agar tidak menyebar dan menjadi provokasi yang bisa merugikan semua pihak.

Jangan sampai Sumatera Utara yang aman dan damai ini, berubah menjadi provinsi yang penuh dengan konflik pasca Pemilukada selesai. Jika hal ini terjadi, dikhawatirkan akan memicu rusaknya kerukunan dalam keanekaragaman masyarakat Sumatera Utara dan terjadinya kebencian di tengah masyarakat.

Dukungan Polri melalui Satgas Anti Sara, Anti Money politik dan Satgas Nusantara yang dibentuk guna mengawal jalannya Pilkada agar tercapai Pilkada yang bersih, damai dan berintegritas yang jauh dari ujaran kebencian, provokasi dan hoak serta praktek-praktek money politik akan sangat dibutuhkan.

Disamping itu Deklarasi wujudkan kampanye damai dan penolakan terhadap politisasi SARA dan penyebaran berita Hoax harus segera dilakukan oleh calon gubernur dan calon wakil gubernur maupun calon bupati/walikota ataupun calon wakil bupati/wakil walikota, agar tidak terjadi aksi saling menghujat di tengah-tengah masyarakat sehingga akhirnya dapat menimbulkan perpecahan.

Tentunya semua pihak tidak akan mau jika akhirnya Pemilukada hanya menghasilkan perpecahan dan tentunya akan menambah pekerjaan calon yang terpilih nanti untuk kembali merajut persatuan di masyarakat. Yang kita dambakan adalah Pemilukada yang damai dan berintegritas, sehingga menghasilkan negarawan-negarawan di daerah yang dapat membawa perubahan di Sumatera Utara dan juga Indonesia.*

Apa Tanggapan Anda?