Home / NEWS / Penggunaan Tanjak dan Tengkuluk di Melayu Harus Dilestarikan Kembali 

Penggunaan Tanjak dan Tengkuluk di Melayu Harus Dilestarikan Kembali 


EDISIMEDAN.com, MEDAN– Budaya dan tradisi Melayu saat ini harus kembali diangkat dan dilestarikan terutama dikalangan anak muda. Hal ini guna agar khazanah budaya dan tradisi melayu tidak hilang ditelan masa.

 

Untuk itulah, 4 pemuda peduli budaya Melayu dari kepulauan Riau dan Batam mengunjungi sejumlah daerah melayu salah satunya kedatukan sukapiring yang bermarkas di jalan Sakti Lubis Gang Bengkel Medan.

Keempat pemuda  peduli Melayu itu yakni Datuk Abu Abdalah Fahmi, Datuk Sugianto Bin Rusli, Muhammad Aryan Maulana,  Muhammad Ridwan.

“Adapun maksud tujuan kami datang ke Kota Medan ini mengambil saringan maklumat kebeberapa negeri termasuk ke Kedatukan Sukapiring. Beberapa saringan maklumat yang kita lakukan  adalah mengenai budaya, adat istiadat, dan masalah persalinan busana setempat. Karena busana Melayu saat ini tidak ada ciri khas. Semua berpakaian Melayu namun hanya secara general saja,” ucap Datuk Abu Abdalah Fahmi, di Sekretariat Kedatukan Sukapiring pada Rabu (23/12/2020).

 

Selain itu ia mengatakan kehadirannnya juga untuk mempererat silaturahmi.

Baca Juga:  Soal Rampas Palu Sidang Paripurna DPRD Sumut, Ini Kata Sutrisno Pangaribuan

Dalam kesempatan itu ia mengatakan penggunaan Tanjak dan Tengkuluk harus dilestarikan kembali. bahkan lebih dari itu, penggunanya harus tau apa manfaat, cara menggunakan dan kesakralan  Tanjak dan Tengkuluk.

“Tanjak dan Tengkuluk bukan hanya sekedar penutup kepala namun menggunakannya artinya mencirikan identitas kemelayuan dari seseorang. Sehingga dalam membuatnya tidak sembarangan meski dibuat sama-smaa dari sehelai kain,” ucapnya.

Dikatakannya, arti tanjak itu adalah negeri dipijak. Tanjak ini merupakan identitas dari sebuah daerah atau ia menyebutnya negeri.

Mengkreasikan Tanjak dibutuhkan ritual dan bahkan tidak boleh dipublikasikan. Karena dikhawatirkan jika masyarakat meniru dari apa yang dilihat tetapi tidak belajar secara langsung dikhawtirkan akan terjadi kesalahan, kekeliruan atau tidak sesuai dengan aslinya.

“Mengkreasikan kain menjadi tanjak harus melewati beberapa ritual seperti berwudhu terlebih dahulu. berbagai persyaratan ini jika dijalankan pengguna tanjak akan terlihat lebih berkharisma,” katanya.

Untuk itu, mereka yang saat ini sudah menjadi konsultan busana Melayu di beberapa daerah itu mengaku nantinya jika busana Melayu ini kembali di gunakan maka akan bangkit kembali tradisi dan budaya melayu.

Baca Juga:  Awas! 300 Tahanan Kabur, Warga Sumut Diminta Berhati-hati

“Kita juga ingin tanjak atau tengkuluk yang digunakan oleh kedatukan sukapiring dapat ditentukan kedepannya,” paparnya.

 

 

Selain kedatukan Sukapiring yang meminta persalinan busana melayunya juga dimintakan oleh Batubara, Deliserdang. Artinya dengan ini ia menginginkan Masyarakat yang berada di daerah Melayu itu bisa kembali menggunakan tanjak, tengkuluk, ketam  dan lainnya sehingga lestari kembali.

 

 

 

“Semakin banyak majelis, pertemuan Melayu sehingga akan banyak masyarakat yang menggunakan busana Melayu, ini merupakan salah satu pelestarian budaya dan tradisi Melayu. Selain itu kita juga sudah melakukan berbagai seminar dan bengkel workshop. Dibengkel itu diajari bagaimana membuat tanjak, tengkuluk secara tradisional atau aslinya” ujar pria ini.

Datuk Sukapiring, Datuk Rustam sangat senang dengan kehadiran para anak muda yang peduli dengan budaya dan tradisi Melayu itu.

 

“Kedatukan Sukapiring mengucapkan terimakasih atas kunjungannya, dengan ini dapat menambah wawasan dan ilmu yang selama ini kami mengharapkan adat dan budaya ini dapat terangkat kembali. Zaman boleh berganti, adat budaya jangan sirna,” katanya.

Baca Juga:  Tok...Tok...Tok... MKD Putuskan Panggil Luhut Senin

Kegembiraan ini juga disampaikan Datuk Bendahara Sukapiring, Datuk Zulkifli
Bahwa kehadiran para Datuk
selaku penggiat budaya berharap terhadap para seniman dan ahli tanjak ini ini untuk membagi menyalurkan ilmunya . Ia juga mengiayakan ucapan Datuk Fahmi bahwa budaya dan tradisi di Sumatera timur atau Sumut ini sudah mulai hilang bahkan hampir banyak yang tidak mengenal lagi. Apalagi cara berbusana Melayu yang baik dan benar hampir banyak yang tidak tau.

“Kedatangan mereka ini harus dimanfaatkan oleh kedatukan untuk menggali ilmu dan menjalin kerjasama negeri Melayu Sumut agar dapat mengenal kembali kaedah berbusana Melayu dnegan baik dan benar,” paparnya.

 

Sementara itu, Datuk Abu Abdalah Fahmi sempat memperagakan bagaimana menyimpul kain menjadi tanjak. Kemudian tanjak yang sudah selesai langsung dipakaikannya kepada salah seorang pengurus Kedatukan Sukapiring. (bd)

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up