Peristiwa Kebakaran Di Medan Mencapai 220 Kejadian

25

EDISIMEDAN.COM, MEDAN- Berdasarkan data yang diterima dari Dinas Pencegah dan Pemadam Kebakaran (P2K) Kota Medan, Jumlah peristiwa kebakaran di Kota Medan sepanjang bulan Januari-hingga tanggal 20 Agustus 2019 tercatat ada 220 kejadian. Jumlah ini terbilang meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu yang dari Januari hingga Desember 2018 tercatat hanya 265 kejadian.

     Adapun rinciannya, Januari 25 kejadian, Februari 34 kali, Maret 35 kali, April 33 kali, Mei 18 kali, Juni 26 kali, Juli 28 kali Agustus 21 kali.

     “Ini sangat meningkat, jumlahnya jauh dari tahun 2018 lalu,” kata Kepala Dinas P2K Kota Medan, Albon Sidauruk  pada Rabu, (21/8/2019).
     Dalam kesempatan itu, Albon juga menjelaskan penyebab terbesar kejadian kebakaran di Medan akibat arus pendek (korslet) selebihnya diakibatkan adanya korelasi dengan musim panas yang terjadi sejak bulan Juli sampai Agustus ini.
     “Bulan Juli-Agustus inikan cenderung musim panas, sehingga hampir setiap hari terjadi kebakaran bahkan dalam sehari bisa 2kali sampai 3 kali sehari,” kata Albon yang baru menjabat  1 bulan itu.
     Dikatakan  peristiwa kebakaran di Medan penyebabnya Ada korelasi antara musim panas dengan kebakaran dan ada juga korelasi antara byarpet PLN dengan kebakaran. Total keseluruhan kebanyakan diakibatkan hubungan arus pendek (korslet), kompor gas tahun ini minim.
     Adapun kawasan rawan kebakaran di tahun ini yakni Medan Tembung, Medan Denai dan Medan Perjuangan.
     Untuk mengantisipasi dan menurunkan angka peristiwa kebakaran ini, pihaknya mengaku sudah menyiapkan sejumlah program diantaranya melakukan sosialisasi ke sejumlah sekolah negeri dan swasta. Ini guna memberikan edukasi dan mengajarkan bagaimana pencegahan dan memadamkan api kepada anak sejak dini.
     Program lainnya melakukan sosialisasi kepada warga di sejumlah Kelurahan yang ada di 21 kecamatan di Kota Medan. Ini diutamakan terhadap kawasan yang rawan kebakaran. Seperti Tembung, Denai dan Medan Perjuangan
     “Sekarang kami melakukan sosialisasi kepada 20 sekolah yang terdiri dari 10 sekolah negeri, 10 sekolah swasta dan 21 kecamatan yang kelurahannya  rawan kebakaran,” ungkapnya lagi.
     Lanjutnya, sesuai pengalamannya di lapangan, kebanyakan masyarakat panik jika menghadapi kebakaran, bahkan lebih penting dia harta daripada menyelamatkan jiwa yang ada didalam objek yang terbakar.
     “Kadang Masyarakat ini kebanyakan panik jika terjadi kebakaran, lebih mementingkan harta dibandingkan jiwa. Seperti yang terjadi baru baru ini, seorang anak ditemukan terpanggang  di kamarnya saat terjadi kebakaran. Oleh karena itu penting adanya sosialisasi,” tegasnya.
     lebih lanjut Albon juga menjelaskan bahwa Penyebab kebakaran lainnya juga disebabkan adanya instalasi di rumah warga yang sudah tua atau tidak sesuai dengan arus yang dimiliki warga. Ini merupakan penyebab terbesar terjadinya arus pendek.
     Selain melaksanakan sejumlah program sosialisasi, pihaknya juga berusaha agar dari 4 UPT yang ada tahun ini bisa menjadi 7 UPT. Ini penting agar lebih cepat  dapat memadamkan api pada peristiwa kebakaran, setidaknya 15 menit mobil pemadam kebakaran (damkar) sudah sampai ke tempat kejadian perkara (TKP).(Mahbubah Lubis)

Apa Tanggapan Anda?