Home / NEWS / Pilot Malaysia Saja Bangga Produksi PT DI, Harusnya TNI AU Juga

Pilot Malaysia Saja Bangga Produksi PT DI, Harusnya TNI AU Juga


PERNYATAAN Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna soal helikopter buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), mengundang kontroversi. Agus menganggap PT DI tidak mampu memproduksi alutsista udara.

“Saya rasa bikin sayap saja (PT DI) tidak bisa,” katanya seperti dilansir okezone.

Kotroversi ini muncul lantaran derasnya kritik masyarakat soal rencana pemerintah membeli Helikopter very very important person (VVIP) untuk Presiden Jokowi.

Menurut KASAU, usulan itu datang dari pihaknya. TNI Angkatan Udara ngotot membeli helikopter AgustaWestland AW101, buatan perusahaan patungan Agusta asal Italia dan Westland Helicopters asal Inggris.

Satu unit telah dipesan sejak Juni 2015 dan memasuki tahap perakitan akhir di Italia. Helikopter tersebut akan tiba di Indonesia tahun depan

Ia menyingkirkan usulan Komisi I DPR RI yang menyodorkan Airbus Helicopter H225 Super Puma yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Eurocopter EC225.

Meski Airbus Helicopter bermarkas di Perancis, EC225 menurut Anggota Komisi I Bidang Pertahanan DPR Tubagus Hasanuddin, dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

PT DI menangani desain dan produksinya, sedangkan Airbus Helicopter memegang lisensinya.

“EC225 ini lebih bagus dan sudah dipakai oleh 32 kepala negara dan raja di dunia. Lagipula lebih baik kita pakai buatan dalam negeri. Harganya hanya US$35 juta, bandingkan dengan AgustaWestland AW101 yang US$55 juta,” kata Hasanuddin seperti dikutip CNN Indonesia.

Baca Juga:  SBY Ajari Jokowi Cara Bertanggungjawab Sebagai Presiden

Saya tidak ingin ikut berpolemik dalam pembelian helikopter VVIP kepresidenan tersebut. Hanya saja, pernyataan KASAU yang menganggap bahwa PT Dirgantara Indonesia tidak mampu memproduksi alutsista udara, sangat menggelitik hati saya.

Padahal nama PT DI (sebelumnya Industri Pesawat Terbang Indonesia, IPDN) sudah lama dikenal sebagai industri pesawat yang berkualitas. Apalagi salah satu pesawat yang dilahirkan di sini, CN 235 diakui salahsatu yang terbaik di dunia.

Pengakuan kehebatan pesawat buatan PT DI, juga datang dari seorang pilot angkatan udara berbangsaan Malaysia, bernama Muhammad Iqbal. Dia salah satu dari ratusan pilot yang datang untuk membantu misi kemanusia saat bencana gempa dan tsunami menerjang Aceh dan Nias pada 26 Desember 2004 lalu.

Ketika itu saya tertarik mewawancarai pilot Angkatan Udara Malaysia itu karena ikut menerbangkan CN 235 buatan PT DI. Sebelas tahun lalu, Muhammad Iqbal masih berpangkat Mayor.

Mayor Muhammad IqbalMayor Iqbal beserta 5 pilot Malaysia lainnya tiba di Bandara Polonia, Medan pada 29 Desember. Dalam misi itu, Malaysia mengirimkan 1 pesawat CN 235 dan 1 helikopter Super Puma.

Selain Malaysia, Brunai Darussalam dan Spayol juga masing-masing mengirimkan 1 CN 235 dan 3 CN 235. Mereka bahu membahu membantu mengirimkan logistik untuk sebuah misi kemanusiaan yang tercatat terbesar di dunia.

Baca Juga:  Inilah Foto Artis AA yang Terlibat Prostitusi Online

Kisah kehebatan CN 235 bermula saat Mayor Iqbal pertama kali mengirimkan logistik ke Nias. Saat itu bertepatan dengan hari ke tiga tsunami. Para korban gempa dan tsunami di Nias sangat membutuhkan pertolongan logistik. Tapi logistik hanya bisa diangkut lewat helikopter, dengan jumlah tak memadai.

Mayor Iqbal sempat bingung. Karena pesawat CN 235 yang dibawanya tak direkomendasikan untuk melakukan pendaratan di Bandara Binaka. Ketika banyak pihak meragukan pendaratan pesawat tipe CN 235 di bandara itu, Mayor Iqbal mengambil keputusan berani.

Tak ada jalan lain, ia harus secepatnya mengirimkan bantuan untuk korban yang sudah kelaparan. Akhirnya ia sukses mendarat dengan mulus.

Ia kemudian menjadi perintis bagi pesawat sejenis untuk mengirimkan logistik via Bandara Binaka, Nias.

“Bandara Binaka awalnya tidak direkomendasikan untuk didarati CN 235. Tapi saya berhasil mendarat dengan mulus. Itu membuat saya bangga. Apalagi saya membawa 3 ton bantuan makanan dan obat-obatan yang dibutuhkan masyarakat di sana,” ujar lelaki berkulit hitam manis saat itu.

Lengkapnya Baca di sini
Mayor Mohammad Iqbal | Dari Malaysia dengan Misi Kemanusian

ARTIKEL terkait di JakartaPost: Flying on Humanitarian Mission

Baca Juga:  Di Sibolangit, Truk CPO Lindas Tiga Pekerja Pelebaran Jalan Hingga Tewas

Mayor Iqbal menjadi Tentara Angkatan Udara Malaysia sejak tahun 1992. Dari pengalaman menerbangkan sejumlah jenis pesawat (Pilatus dan Karibo), dia mengakui CN 235 buatan PT DI cukup membanggakan.

Menurut Mayor Iqbal, kelebihan yang dimiliki CN 235, karena bisa digunakan dalam segala operasi (multiple plus) ditunjang dengan instrumen yang canggih dengan kapasitas penumpang 35 orang dan daya angkut lebih dari 3 ton. Dengan perawatan yang baik, massa lifetime CN 235 mencapai 20 tahun.

Katanya saat itu, banyak negara yang tertarik membeli tipe pesawat hasil pengembangan tehnologi dari mantan presiden BJ Habibie. Termasuk Malaysia, yang tahun 2004 telah memiliki 6 unit CN 235 dan ketika itu memesan 1 unit lagi type CN 235 VVIP.

Yah, Indonesia sepatutnya bangga. Diantara puluhan pesawat canggih dari negara lain yang terbang di udara Indonesia pasca tsunami, pesawat buatan PT DI memberikan andil yang cukup besar dalam sebuah misi kemanusian.

Jadi Pak KASAU, kalau 11 tahun lalu, pilot dari negara lain sudah mengakui kehebatan pesawat produksi PT DI, harusnya kita juga. Akan menjadi kebangaan juga jika helikopter kepresidenan yang diproduksi PT DI, juga dipesan negara-negara lain di dunia. [dedy ardiansyah]

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up