Pria Ini Bangun Tahfidzul Qur’an Untuk Bantu Kaum Dhuafa Dan Yatim Piatu

68

EDISIMEDAN.COM,  MEDAN- Banyak cara untuk menyalurkan kebaikan dan juga menjadi bermanfaat bagi orang lain. Terkhusus buat orang-orang yang membutuhkan uluran tangan. Hal ini pulala mendasari pria berhati sosial ini membangun sebuah sekolah berbasis Tahfidzul Qur’an dan juga pesantren buat kaum dhuafa dan anak-anak yatim dan piatu.

Dia Zahirman, pria yang lahir pada 24 Maret 1965 warga Jalan Utama No. 61 Kota Matsum IV Medan. Berdasarkan keterangannya Sekolah Islami yang ia beri nama Tahfidzul Qur’an Al Umm Smart Center itu mulai terfikirkan olehnya untuk dihadirkan ditengah-tengah masyarakat pada tahun 2016 lalu.

Sebab sebelumnya, sejak tahun 2012, ia selalu menyisihkan zakat dan infak buat anak yatim/dhuaffa yang bisa digunakan untuk pelunasan uang sekolah yang tertunggak dan memberikan biaya keperluan sekolah melalui rekan sekaligus kerabat dekatnya yang ia sebut dengan panggilan pak Alwi batubara.

Selain itu ia juga rutin menyalurkan zakat dan infaknya yang disalurkan kepada ibu-ibu rumah tangga kurang mampu yang dapat digunakan sebagai modal usaha rumah tangga.

“Setelah berjalan 3 tahun, kami berfikir bersama dengan bapak Alwi Batubara untuk mendirikan panti asuhan yatim/dhuaffa di tahun 2016,” ucapnya.

Sehingga dijelaskannya pada tahun 2017 dimulai konstruksi bangunan untuk tempat tinggal yatim/dhuaffa berkapasitas 40 santri.

Sejalan masa konstruksi, kembali muncul keinginannya sehingga tercetus ide agar anak-anak santri juga diajarkan untuk menghafal Al-Qur’an sebagai tahfidz atau penghafal Al Qur’an.

“Sehingga kami bangun ruang belajar untuk Tahfidzul Qur’an,” ucapnya seraya mengatakan pada bulan ramadhan 1439 H tahun 2018 ia menghimbau anak-anak di sekitar tembung Pasar V dan VII untuk ikut belajar tahfidz.

Berbagai upaya pun saat itu ia lakukan dengan orang-orang terdekatnya mulai melakukan pendekatan kepada nazir masjid dan pengajian-pengajian. Dikatakanya anak-anak disekitar pesantren sangat antusias, sehingga ruangan-ruangan yang sudah dididirikan sebanyak 6 ruangan khusus untuk belajar dipergunakan juga buat tahfidzul qur’an reguler guna merespon animo masyarakat.

“Selain kita membina anak-anak dhuafa dan yatim piatu, kita juga membuka kelas reguler guna merespon animo masyarakat sehingga pesantren tahfidz juga bisa dimanfaatkan oleh masyarkat sekitar pesantren,” ungkap ayah dari 3 anak ini.

Sejumlah santri saat berada di Asrama Penghafal Al-Qur’an Al-Umm Smart Center

pembangunan pesantren Tahfidzul Qur’an Al Umm Smart Center itu semakin berkembang hingga saat ini sudah tersedia ruang belajar 6 unit dilengkapi dengan 1 mushola dan 3 kamar muhafidz. Dan jumlah santri juga kian banyak. “Saat ini santri yatim/dhuaffa sebanyak 22 orang dan reguler sebanyak 150 santri,” paparnya lagi.

Dikesempatan itu ia juga menceritakan dasar ia menamakan pesantrennya dengan nama Al Umm. Al Umm terinspirasi dari tafisir Imam Syafi’i dan dibarengi dengan arti Al Umm secara umum adalah ibu.

Dengan nama itu, ia berharap dapat menjadi amal jahiriyah buat kedua orang tua dan terkhusus kepada ibu yang ia sayangi.

“Ini Bukti pengabdian saya kepada ibunda tercinta, karena ia telah berjuang membesarkan saya. Bapak saya meninggal Desember 1964 pada saat saya berusia 7 bulan dalam kandungan ibu saya sehingga inilah bentuk kecintaan saya kepada orang tua saya,” ungkapnya haru mengenang kehidupannya masa lalu.

Dilanjutkannya, membangun sekolah islmai yang diharapkannya nantinya bisa menjadi kiblat pendidikan Islam di Sumatera Utara ini bukan karena ia orang berada yang punya banyak uang. Karena diakuinya ia yang berasal dari keluarga kurang mampu dan hidup banyak bantuan dari orang-orang yang sholeh untuk tambahan biaya pendidikan dan kelengkapan sekolah, justru menjadikannya motivasi untuk membantu orang-orang senasib dengannya.

“Waktu kecil saya bekerja dan berjualan makanan keliling, begitu juga abang/kakak saya harus bekerja untuk berjuang melanjutkan kehidupan, pada akhirnya berkat didikan ibu saya, kami sekeluarga saling membantu dan mendukung,” katanya mengenang masa lalu yang lekat sampai saat ini di memorinya.

Sehingga dikatakannya muncullah cita-citanya untuk dapat membantu sesama ummat dengan prinsip ia harus bermanfaat bagi orang lain dimanapun ia berada.

Membangun sebuah pesantren tidaklah mudah. Mulai kendala SDM hingga biaya yang terbilang sangat besar. Dan ia mengakui merintis semuanya memang banyak sekali kendala yang ia hadapi terutama mewujudkan pembangunan.

Namun, setiap niat baik selalu ada jawabnya dari Allah SWT, rezekinya tak pernah putus, pembangunan terus bergulir hingga saat ini.

“Alhamdulillah saya diberi rezeki oleh Allah SWT sehingga pembangunan ini dapat saya wujudkan walaupun masih berdikari,” katanya

Namun kedepan dalam mewujudkan pembangunan ruangan lanjutan sekolah formal yg berbasiskan tahfidzul qur’an ia berencana akan bekerjasama dengan berbagai pihak.

“Impian dan cita-cita kami semoga dengan berdirinya pesantren tahfidzul qur’an Al umm smart centre nantinya generasi kedepan mempunyai akhlakul karimah dan mencintai qur’an. Dengan kemampuan sebagai tahfidz akan lebih meningkatkan daya fikir dan emosional kita sehingga kita akan menjadi insan yang sangat berguna bagi agama dan bangsa,” ujarnya.

Dipenghujung ia berharap agar pesantren Al Umm Smart Center menjadi icon pendidikan Tahfidzul Qur’an yang dibanggakan masyarakat Kabupaten Deli Serdang dan umumnya masyarakat Sumut. (Mahbubah Lubis)

Apa Tanggapan Anda?