Home / PROFIL / Putu Gede Asnawa Dikta, Penggagas Wisata Argo Park Salak

Putu Gede Asnawa Dikta, Penggagas Wisata Argo Park Salak


Berangkat atas dasar keprihatinanya melihat kondisi perekonomian para petani salak di Desa Sibetan yang masih tergolong miskin, Putu Gede Asnawa Dikta, pemuda berusia 21 tahun ini akhirnya menjadikan Desa Sibetan, sebagai desa Wisata Argo Park Salak.

Sibetan adalah nama sebuah desa di Kecamatan Bebandem yang memiliki potensi alam pertanian khas di Kabupaten Karangasem, Bali yang terkenal dengan sentra produksi salak. Namun saat musim panen raya harga salak anjlok dan petani dirugikan.

Produksi salak yang dihasilan, tidak serta merta mampu mengantarkan masyarakat petani salak di desa Sibetan dapat hidup dengan kualitas yang memadai, merujuk pada tingginya angka kemiskinan di kalangan petani salak, mencapai 24% dari total jumlah penduduk (7.425 jiwa).

Data ini dapat dijadikan refleksi bahwa aktivitas ekonomi mayarakat berbasis pada pertanian salak belum memberikan trickle down effect pada hidup dan kehidupan petani salak.

Kelompok warga abian wisata yang diketuai oleh Dikta, mengembangkan desa Sibetan sebagai area tujuan wisata baru dengan membangun area kebun salak yang luas sekitar kurang lebih 1 ha sebagai projek contoh dari total luas 40 ha ladang salak di kabupaten Karangasem Bali.

Desa wisata Sibetan sendiri menawarkan destinasi wisata agro wisata salak. Keberadaan Desa wisata salak Sibetan dari tahun 2012, sedikitnya telah mengubah taraf perekonomian masyarakat, dengan melibatkan sepenuhnya masyarakat dalam mengolah aneka produk kreatif salak, buah dan limbah salak yang kini menjadi pemasukan masyarakat.

Warga Desa Sibetan terlibat di pengelolaan baik sebagai guide, pengolah produk salak dan wisata tani. Diperkirakan peningkatan pendapatan masyarakat sekitar 5 sampai 7 %.

Desa wisata Salak Sibetan saat ini dikunjungi oleh wisatawan asing maupun lokal dengan tingkat kunjungan 7 sampai 15 kelompok setiap minggu dengan jumlah setiap kelompoknya bervariasi antara 7 sampai 35 orang.

Harapan kedepannya dari program ini yaitu meningkatnya penghasilan masyarakat, minimal setara dengan UMR Kabupaten Karangasem Rp 800 ribu/bulan. Sebelumnya hanya rata-rata Rp 500 ribu/bulan (penghasilan kotor).

Selain itu, Dikta juga ingin mewujudkan demplot kawasan agro wisata salak dengan luas 1 km2 yang meliputi bangunan/sentral/poin (kuantitas: satu): ticketing, pusat informasi, kebun eksotis, stan kuliner inovatif, foto session, gubuk relax, stan produk kreanova, dan sentral petik salak sebagai cikal bakal lingkungan industri kreatif.

Terwujudnya 2 unit demplot sistem tani terpadu sebagai upaya optimalisasi bibit salak unggul dan sistem pengolaham limbah salak berbasis zero waste. 
Adanya kesadaran masyarakat dalam upaya melaksanakan program pilotting project agro wisata menuju “Sibetan Agro Techno Park” yang ideal dan terlembaga di desa Sibetan.

Atas jasanya tersebut, Putu Gede Asnawa Dikta masuk dalam 5 peraih Danamon Social Entrepreneur Awards (DSEA) 2015, yaitu para individu yang membangun wirausaha berkelanjutan untuk mengatasi masalah sosial di lingkungannya. [Baca Juga: Ini Dia Lima Peraih Danamon Social Entrepreneur Awards 2015] [ded]

Baca Juga:  Mengenal Ibtihaj Muhammad, Atlet Amerika Berhijab Pertama di Olimpiade
Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up