Home / NEWSSUMUT / Raden Syafi’i : Aksi Terorisme Muncul Karena Polisi Tidak Serius

Raden Syafi’i : Aksi Terorisme Muncul Karena Polisi Tidak Serius


Raden Muhammad Syafii menyampaikan doa penutup pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2016-2017 di hadapan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan jajaran Kabinet Kerja, Selasa (16/8/2016).

EDISIMEDAN.com, MEDAN- Anggota Komisi III DPR RI Raden Muhammad Syafii menolak jika aksi terorisme yang terjadi di Surabaya disebut akibat lambatnya proses revisi UU Terorisme di Senayan. Politisi Gerindra itu menyebutkan aksi terorisme terjadi lantaran polisi tidak serius menangani kasus ini.

Menurut Romo, panggilan Raden Syafii, ada kelalaian dalam penanganan terorisme di Indonesia. Penjagaan di rumah ibadah menurutnya, adalah untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat untuk menjalankan ibadah. Namun dia heran, kenapa para terduga teroris menyerang tempat yang dijaga oleh kepolisian.

“Di tempat yang dikawal polisi inilah, peristiwa terorisme atau juga bom itu terjadi. Lagi-lagi saya melihat, penyebabnya adalah kelalaian dan ketidakprofesionalan kepolisian” ujar Romo, Senin (14/5).

Lebih lanjut Romo menegaskan, masyarakat juga perlu mengetahui, pengawalan yang dilakukan aparat Kepolisian itu tidak ada yang gratis. Itu semua dibiayai oleh APBN, uangnya rakyat Indonesia. Dari tugas itu adalah munculnya kepastian, aparat kepolisian melaksanakan UU Nomor 2 Tahun 2002, untuk melindungi, melayani, dan mengayomi masyarakat. Tapi ternyata, penggunaan uang APBN itu, apa yang diamanahkan UU tidak bisa diwujudkan oleh aparat kepolisian.

Baca Juga:  Inilah Teks Lengkap Doa Paripurna Romo Syafii yang Dianggap Kritik Pemerintahan Jokowi

“Jadi saya melihat, ada ketidakprofesionalan dari aparat kepolisian itu sendiri. Lalu kalau kemudian peristiwa ini, kemudian dikaitkan dengan belum selesainya pembahasan rancangan UU pemberantasan tindak pidana terorisme, saya kira ini sangat tidak masuk akal, kenapa tidak masuk akal? Apa urusannya pembahasan RUU Terorisme dengan peristiwa yang di rutan, yang justru terorisnya sudah ada dalam rutan dikawal, tapi bisa bikin kerusuhan. Apa hubungannya dengan kejadian yang di gereja di Jawa Timur, yang justru dikawal dengan pihak kepolisian,” katanya.

Jika ada keinginan untuk mendesak presiden mengeluarkan pembahasan RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme belum selesai, menurut Romo itu sangat berlebihan. Dia juga meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mundur.

“Jadi, polisi yang tidak profesional, justru yang dipersoalkan RUU yang belum selesai, yang tepat adalah kalau memang kepolisian hari ini tidak profesional. Itu pasti karena Kapolrinya yang tidak mampu untuk mengemban amanah memimpin kepolisian memberikan pelayanan yang terbaik kepada rakyat Indonesia. Sebaiknya, ketimbang mendesak mengeluarkan Perpu, Kapolri legowo lah untuk mengundurkan diri,” tegasnya.[ska]

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up