SAHDAR Nilai Kekosongan Obat Di Medan Diduga terjadi Kecurangan.

11

EDISIMEDAN-Kekosongan obat di Rumah Sakit yang terjadi saat ini dinilai disebabkan karena manajemen tata kelola rumah sakit yang buruk dan permasalahan keuangan. Setidaknya berdasarkan riset yang telah dilakukan, disimpulkan dua masalah tersebut terjadi karena missing case pada pencatatan laporan dan penggunaan obat dan cash flow di fasilitas kesehatan. Situasi kekosongan obat ini merupakan anomali yang berpotensi fraud (kecurangan). Hal ini dikatakan

Koordinator Eksekutif Sentra Advokasi untuk Hak Dasar Rakyat (Sahdar), Ibrahim pada Press conference bertajuk Mendorong Pelayanan Kesehatan dan Tata Kelola di kota Medan yang digelar di Sentra Advokasi untuk Hak Dasar Rakyat (SAHDAR) pada Rabu, (30/1/2019)

Dalam Keterangan Ibrahim, Kondisi pelayanan kesehatan terhadap pasien rawat jalan JKN-KIS yang ingin mengambil obat di Fasilitas Kesehatan seperti Rumah Sakit dan (PKM) Pusat Kesehatan Masyarakat belum maksimal. Dikatakan SAHDAR menemukan di 4 Rumah Sakit dan di 2 Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) menunjukan fakta masih banyak pasien yang tidak mendapat obat.

“Kita temukan banyaknya pasien tidak mendapatkan obat ini Berdasarkan keterangan 100 orang pasien yang tersebar di empat Rumah Sakit dan dua PKM di Kota Medan, tercatat ada 33 orang pasien pengguna JKN-KIS yang ditemukan tidak mendapatkan obat atau mengalami pengurangan jumlah dari resep seharusnya,”ungkapnya.

Hal tersebut ditegaskanya paling banyak ditemui pada Rumah Sakit Dr Pringadi Medan, dan Rumah Sakit Swasta Martha Friska Jln Yos Sudarso. Sementara untuk Rumah Sakit Haji Medan, dan PKM Glugur Darat masing masing ditemukan satu orang pasien yang tidak mendapat obat.

Dalam keterangannya lagi, Ibrahim mengatakan Keluhan terkait tidak tersedianya obat yang diperlukan oleh pasien disampaikan oleh salah seorang pensiunan PNS penderita penyakit ginjal di Rumah Sakit Dr Pringadi Medan, Zay (63) dan RR seorang Ibu Rumah Tangga yang mengaku tidak mendapat bon obat dari rumah sakit. Dimana ia dijanjikan bisa mengambil obat dan jangka waktu 3 hari sampai seminggu namun tidak kunjung memperoleh obat.

Ibrahim menjelaskan, saat ini tercatat, tidak tersedianya obat pada fasilitas kesehatan di Kota Medan terjadi pada 38 jenis obat diantaranya adalah obat-obatan untuk penyakit kronis dan menular, seperti gangguan jantung, ginjal, asthma dan TBC.

Agar tidak terjadi hal hal yang merugikan masyarakat dan hak hajat orang banyak, Hal ini lah yang menurut Ibrahim harus segera diselesaikan. “Dampak dari situasi tidak tersedianya obat ini mengakibatkan kerugian terhadap pasien. Dimana banyak pasien yang posisinya lebih lemah dari rumah sakit harus mengelurkan uang tambahan untuk membeli dan mendapatkan obat yang mereka butuhkan, rata rata tercatat beberapa pasien dengan penyakit kronis yang kami wawancarai seperti harus mengelurkan uang sebesar Rp. 200.000,- (seratus sembilan puluh ribu) untuk sekali pembelian obat obatan di apotik.(Mahbubah Lubis)

 

Apa Tanggapan Anda?