Sebanyak 1230 Fintech Ilegal Ditindak, OJK: Servernya dari Luar Negeri

    48

    EDISIMEDAN.COM, MEDAN- Satgas waspada investasi otoritas jasa keuangan (OJK) telah menangani sebanyak 1230 perusahaan teknologi finansial (Fintech) untuk sector peer to peer lending illegal. Dari kasus yang ditangani, rata-rata perusahaan tersebut menggunakan server dari luar negeri.

    “Servernya ada dari Amerika, Cina, Singapura, Malaysia dan lainnya. Kita tidak ada data soal ini, karena alamatnya gak jelas, nama gak jelas, hanya virtualnya aja,” ujar Ketua Umum Satgas Waspada Investasi, Tongam Lumban Tobing usai acara Sosialisasi Waspada Investasi Ilegal di Hotel Cambridge Medan, Kamis (5/9/2019).

    Hal in, lanjutnya tentunya akan merugikan masyarakat dan juga negara. “Potensi penerimaan pajak tidak didapatkan oleh negara, kita juga tidak tahu potensi fintech karena banyak yang tidak terdaftar.

    Bahayanya, kita tidak tahu modal mereka darimana, bisa saja ini terkait pencucian uang. Sementara masyarakat juga akan dirugikan dengan bunga yang besar,” katanya.

    Untuk itu, ia menghimbau untuk masyarakat agar terus berhati-hati. “Jangan meminjam uang untuk kebutuhan konsumtif, tapi produktif misalnya untuk pengembangan usaha, pinjamlah sesuai kemampuan bayar, dan jangan meminjam untuk membayar hutang. Masyarakat harus cerdas juga dalam meminjam,” katanya.

    Untuk masyarakat yang mengalami pelecehan saat penagihan oleh pihak perusahaan Fintech, bisa melaporkannya ke pihak kepolisian. Tapi perdata, hutang harus tetap dibayar. “Untuk perusahaan Fintech illegal jangan melakukan tindakan tanpa izin dan melanggar UUD. Sudah banyak fintech illegal yang sudah masuk ranah hukum,” katanya sembari mengatakan masyarakat yang ingin tahu Fintech legal cek di call center 157. (Mahbubah Lubis)

     

    Apa Tanggapan Anda?