Selamat Jalan Pak Raden, Terimakasih Menjadikan Masa Kecil Kami Berbahagia

322

JAKARTA, EDISIMEDAN| Legenda dongeng Indonesia, Drs Suyadi atau yang lebih dikenal dengan nama Pak Raden tutup usia. Pria yang khas dengan kumis melengkung tebalnya itu wafat Jumat (30/10/2015) malam sekitar pukul 22.20 WIB.

“Inna Lillahi wainna ilaihiraji’un telah wafat kakek kami tercinta, guru bangsa, legenda dongeng Indonesia, maestro sketsa Indonesia Drs Suyadi (Pak Raden),” kata Manajer Pak Raden, Prasodjo Chusnanto dalam pesan singkatnya yang diterima media-media nasional tadi malam.

Sosok yang dikenal antagonis dalam serial anak Si Unyil itu wafat di Rumah Sakit Pelni Petamburan lantaran sakit yang lama dideritanya.

Terlebih, pria yang memilih hidup membujang itu memang sudah tergantung pada kursi rodanya. Suyadi, atau Pak Raden, meninggal di usia 83 tahun.

“Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar besarnya, segala salah, khilaf dan kekurangan. Semoga diterima segala amal ibadahnya, menjadikan segala karyanya cahaya yang menerangkan. Aamin ya robbal alamin,” tulis Prasodjo.

Sebelum meninggal, publik Indonesia sempat melihat Pak Raden di sebuah acara penghargaan dari infotainment Silet yang digelar RCTI.

Di malam penghargaan infotainment itu, Pak Raden mendapat hadiah istimewa. Bukan sekadar penghargaan atas pengabdian seumur hidup atau lazim disebut Lifetime Achievement Award, melainkan hadiah yang lebih konkret bentuknya: sebuah rumah.

Di kursi roda yang didorong Deddy Corbuzier, Pak Raden naik ke panggung. Ia menerima kunci rumah secara simbolik.

“Terima kasih atas apresiasinya… Dada saya sampai sesak untuk mengutarakan apa-apa yang ingin saya utarakan, tapi saya rangkum dalam satu kata: Terima kasih,” ujar dia di atas panggung.

Yah, di usia senjanya, hidup Pak Raden sederhana. Ia tinggal di rumah sederhana yang dikatakannya milik kakaknya.

“Saya tidak bisa hidup di (rumah) sini selamanya. Kakak saya juga punya keluarga, punya cucu. (Suatu saat) rumah ini diwariskan,” ujar dia dalam potongan tayangan saat penghargaan.

Tidak lama setelah mendapat hadiah rumah, justru muncul kabar Pak Raden masuk rumah sakit. Asistennya, Prasodja Chusnanto mengabarkan antara lain di akun Facebook Pak Raden:

“Mohon doanya untuk kesehatan legenda dongeng kita, Pak Raden (Drs. Suyadi) yang saat ini tengah dirawat di RS Pelni Jakarta. Semoga Pak Raden kembali sehat dan berkarya. Amin.

Tak lama berselang, kabar duka yang datang. Di akun Facebook Pak Raden muncul kabar ini:

“Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un telah wafat kakek kami tercinta, guru bangsa, legenda dongeng Indonesia, maestro sketsa Indonesia Drs Suyadi (Pak Raden), pada hari jumat malam jam 22.20 WIB. Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar besarnya, segala salah, khilaf dan kekurangan. Semoga yang pergi diberikan tempat yang indah, dimasukan ke dalam barisan orang yang beriman, diterima segala amal ibadahnya, menjadikan segala karyanya cahaya yang menerangkan. Aamin ya robbal alamin.”

Selamat jalan, Pak Raden, Terima kasih untuk hiburan yang mendidik, sesuatu yang langka ditemui di industri televisi saat ini.

“Entah bagi orang lain. Tapi bagi saya, lelaki tambun dengan kumis palsunya yang baplang melintang garang ini adalah salah seorang pendidik dan penghibur terbesar yang pernah dilahirkan di Indonesia. Bagi saya beliau adalah guru bangsa. Yang terakhir mati adalah harapan. Yang tak mati-mati adalah kenangan. Terima kasih, Pak Raden, telah menjadikan masa kecil saya berbahagia,” tulis Agus Khaidir, wartawan sekaligus sastrawan muda Medan. [ded]

Apa Tanggapan Anda?