Home / NEWS / Setya Novanto Angkat Bicara Soal Sprindik Dirinya

Setya Novanto Angkat Bicara Soal Sprindik Dirinya


JAKARTA| Ketua DPR RI Setya Novanto akhirnya angkat bicara soal beredarnya foto copy sprindik atas nama dirinya.  Setya Novanto sendiri tak terlalu menanggapi peredaran foto sprindik tersebut. Dia malah mendoakan agar pelaku penyebaran diampuni Allah SWT.

“Semoga pelaku yang menyebarkan sprindik itu diampuni Allah SWT,” kata Setya Novanto saat mengunjungi ruang wartawan DPR di Nusantara III Senayan Jakarta, Selasa (7/10/2014).

Sebelumnya telah beredar tiga foto copy sprindik atas nama Setya Novanto.

Foto sprindik juga mencantumkan nama empat orang penyidik KPK yang melakukan penyidikan kasus dalam sprindik ini yaitu Endang Tarsa, Bambang Sukoco, Heri Muryanto dan Salmah.

Sprindik itu menyatakan telah melakukan penyidikan tindak pidana korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara terkait dengan proses perencanaan dan pelaksanaan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Riau.

Baca Juga:  Sprindik Setya Novanto Tersangka PON Riau Beredar

Kasus tersebut diduga dilakukan Setya Novanto selaku anggota DPR dan dijerat dengan pasal 12 huruf e atau huruf b atau pasal 11 UU Nomor 20/2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Sprindik ini ditandatangani salah satu pimpinan KPK, Bambang Widjojanto pada 15 September 2014.

Lebih lanjut Setya menegaskan terkait menyebarnya sprindik tersebut masyarakat akan bisa menilainya.

“Itu biasa saja, mulai digelitik-gelitik. Tapi biarkan masyarakat, rakyat Indonesia tahu, siapa yang benar,” kata Setya Novanto.

Terkait peredaran sprindik tersebut, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto telah membantah bahwa KPK telah menerbitkan sprindik tersebut.

“Setahu saya KPK tidak pernah keluarkan sprindik seperti itu,” kata tokoh yang kerap disapa BW ini, Selasa (7/10/2014).

Sprindik dalam kasus yang ditangani KPK dan beredar ke publik bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya juga ada sprindik atas nama Anas Urbaningrum yang saat itu masih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dan Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR.

Baca Juga:  Siswa Medan dan Binjai Ini Jadi Paskibraka di Istana Negara

Dalam sprindik itu, Anas menjadi tersangka dalam kasus penerimaan hadiah atau janji terkait proyek pembangunan Hambalang. [ray|int]

Terkait


Berita Terbaru