Tambang Emas Martabe Cemari Sungai, 25 Desa Kesulitan Air Bersih

204
Domion Pohan, Ketua Lembaga Pemuda Pemerhati Lingkungan Hidup (LPPLH) Tapanuli Selatan saat menunjukkan foto dampak pencemaran akibat limbah tambang emas Martabe. Menurutnya, aktivitas penambangan emas Martabe sudah sangat memperihatinkan karena masyarakat di 25 desa di kawasan Batang Toru kesulitan air bersih. [edisimedan.com/medan]

EDISIMEDAN.com, MEDAN – Sebanyak 25 desa yang berada di kawasan pertambangan Emas Martabe di Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan kesulitan memanfaatkan air dari sungai.

Ini akibat aktivitas pertambangan emas Martabe yang dikelola PT Aginncourt Recourse yang diduga telah mencemari aliran sungai di sana.

Hal tersebut disampaikan Domion Pohan, Ketua Lembaga Pemuda Pemerhati Lingkungan Hidup (LPPLH) Tapanuli Selatan. Menurutnya, dampak pencemaraan air sungai di Batang Toru yang disebabkan aktivitas penambangan emas Martabe sudah sangat memperihatinkan.

“Hampir seluruh masyarakat sekitar yang menggantungkan hidupnya di sungai dari mencari rezeki hingga aktivitas lain seperti mandi dan mencuci kini tidak lagi dapat menikmati sungai mereka,” jelas Domion Pohan saat hadiri kegiatan Penghijauan di Taman Bacaan AL-Azhari Martubung, Kota Medan, Minggu (21/1/2018).

Domion Pohan bilang, beberapa anak sungai yang ada di kawasan Batang Toru sudah tidak lagi dapat digunakan karena pencemaran limbah berbahaya dari tambang emas Martabe, dan juga terjadi pendangkalan air sungai dibeberapa desa.

BACA JUGA

“Masyarakat yang bekerja sebagai nelayan penangkap ikan, sekarang ini sudah tidak lagi bisa menangkap ikan karena ikan sudah tidak ada lagi yang dapat hidup di sungai karena limbah dari tambang itu. Banyak juga sungai yang sudah dangkal karena penggundulan hutan di atas gunung yang digunakan pihak Martabe untuk melakukan penambangan,” sambungnya.

Domion mencurigai adanya kerja sama pemerintah daerah dengan pihak PT Aginncourt Recourse dalam penanganan pencemaran air sungai ini.

Sebab PT Aginncourt Recourse dan pemerintah, mengklaim bahwa air yang dialirkan dari tempat penampungan air limbah ke sungai sudah steril dan tidak berbahaya.

“Air sungai yang berwarna pekat itu kata pihak PT AR karena air hujan, pernyataan mereka itu tidak masuk akal bagi kami, sebab dulu sebelum ada tambang, air sungai sangat jernih sekali,” ungkap Domion.

BACA JUGA

Masyarakat dan pemerhati lingkungan hidup mengharapkan ketegasan pemerintah daerah dan pusat untuk serius menangani pencemaran air sungai ini dan menindak tegas pihak-pihak yang telah merugikan masyarakat.

“Sebanyak 15 desa yang berada di lingkaran dalam pertambangan dan 10 desa yang berada di luar lingkaran pertambangan emas Martabe, sekarang sudah tidak lagi dapat memanfaatkan air dari sungai. Jadi tolonglah pemerintah lebih peduli kepada mereka, karena mereka juga bagian dari NKRI,” tutup Domion.

Sebelumnya, Gubsu Tengku Erry Nuradi saat meninjau tambang Martabe pada Juni 2017, mengakui aktivitas tambang sangat rentan dengan lingkungan hidup. Sebab itu dia meminta PT Agincourt Resources untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Selain itu, Gubsu juga meminta eksplorasi dan eksploitasi penambangan emas di kawasan Tambang Emas Martabe memberikan kontribusi lebih besar, tidak sebatas menjaga lingkungan semata.

“Tambang Emas Martabe harus berkontribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah konsesi. Baik sejahtera dalam bentuk tingkat perekonomian, peningkatan kualitas pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat,” harapnya.¬†[top]

Apa Tanggapan Anda?