Terdakwa Ngaku Dipaksa Polisi Lakukan Pembunuhan

326

EDISIMEDAN.com, BINJAI- ‎Hakim Pengadilan Negeri Kota Binjai kembali menggelar sidang kasus pembunuhan terhadap Jasiman Purba warga Jalan Teratai Binjai Utara.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Fauzul Hamdi dengan hakim anggota Diana Febrina Lubis dan Nur Erfianti Meliala beragenda mendengarkan keterangan dua terdakwa yakni Hardi Sihaloho (41), warga Binjai Barat dan Rosmalinda Saragih (42), warga Jalan Teratai, Binjai Utara istri dari korban sendiri.

Pantauan EDISIMEDAN.com, pada persidangan tersebut, Hardi Sihaloho yang bersaksi untuk terdakwa Rosmalinda Saragih bilang, dipaksa polisi untuk mengaku sebagai pelaku yang membunuh korban Jasiaman Purba.

Dihadapan majelis hakim serta jaksa penuntut umum Beni dan dua pembelanya yakni Maringan Silaban dan Sihombing, terdakwa Hardi Sihaloho mengaku ia diiming-imingi untuk ke Kalimantan oleh polisi yang menangkapnya asal dia mau mengaku telah membunuh Jasiaman Purba.

” Wajah saya ditutup pakai plastik warna coklat sampai 8 lapis. Susah bernafas jadinya. Dipukul bagian kuping, kaki dan kepala,” ujar Hardi.

Menurut dia, penganiayaan tersebut dilakukan polisi sebelum mendapat paksaan dari polisi untuk mengakui pembunuhan.

Menurut Hardi, setelah ditangkap tidak langsung dibawa polisi ke Mapolres Binjai. Dia diajak berkelilling lebih dulu selama dua jam. Pengakuan Hardi dibawa ke daerah kebun sawit yang dia tidak tahu jelas di daerah mana.

” Dua mobil kami. Saat di situ (kebun sawit) keluar semua polisi. Saya dibawa agak jauh dari mobil,” kata Hardi.‎

Sesampai di Mapolres, Hardi mengaku dibawa ke ruang gelap. “Disiksa lagi (saat di ruang gelap). Sama mereka-mereka (polisi). Tidak ada diberi minum dan makan,” ujarnya.

Sayang, Hardi tidak tahu berapa jumlah polisi yang melakukan penganiayaan di ruang gelap tersebut. Pasalnya, Hardi mengaku, wajahnya kembali ditutup pakai plastik hitam dengan posisi tangan terikat.

“Sampai pagi di sana (ruang gelap),” katanya.

Hardi mengaku, kenal dengan Rosmalinda selama 6 bulan. Menurut dia, polisi melakukan rekayasa semuanya.

“Saya diperiksa Ferry. Setelah mengakui semua, saya dibebaskan, makanya mengakui,” ujarnya.

Hardi ditangkap di warung tuak. Setelah penangkapan itu, Hardi ditembak. Padahal, Hardi mengaku, tidak ada melakukan perlawanan.

“Saya ditembak Sabtu siang, sesudah saya akui,” katanya.

Usai ditangkap dan ditembak, Hardi dibawa polisi untuk menjemput Rosmalinda di Jalan Masjid, Dusun II, Desa Helvetia, Sunggal, Deliserdang.

“Kamu nanti kalau ditanya, bilang iya iya saja. Tangan saya digari, dua mobil ke sana,” ujar Hardi menirukan ucapan polisi saat menjemput Rosmalinda.

Sementara itu, Penasehat Hukum Hardi, Maringan Silaban menilai, banyak kejanggalan terjadi saat penangkapan tersebut. Kata Maringan, 10 hari setelah penangkapan, Hardi baru diambil Berita Acara Pemeriksaannya (BAP) oleh polisi.

“Ditangkap 14 April 2018 jam 6 pagi. Di BAP tanggal 2‎3 April 2018. Ngapain saja 10 hari polisi. Kita menduga Hardi Sihaloho bukan pelakunya,” pungkas Maringan Silaban. [op]

Apa Tanggapan Anda?