Home / NEWSPROFIL / Tiga Alasan Halimah Yacob Terpilih Sebagai Presiden Wanita Pertama Singapura

Tiga Alasan Halimah Yacob Terpilih Sebagai Presiden Wanita Pertama Singapura


Halimah Yakob jadi sorotan dunia internasional. Mantan Ketua Parlemen Singapura itu dipastikan menjadi presiden muslimah pertama di negara itu. Mulai Rabu (13/9/2017), Halimah resmi menjadi Presiden Singapura hingga enam tahun ke depan. (instagram.com/halimahyacob)

EDISIMEDAN.com, MEDAN – Halimah Yakob jadi sorotan dunia internasional. Mantan Ketua Parlemen Singapura itu dipastikan menjadi presiden wanita pertama dan presiden muslimah pertama di negara itu. Mulai Rabu (13/9/2017), Halimah resmi menjadi Presiden Singapura dan menjabat hingga enam tahun ke depan.

Terpilihnya Halimah Yacob sebagai presiden Singapura menjemput sejumlah pertanyaan publik. Selain karena muslimah, Halimah juga berasal dari etnis Melayu yang selama ini langka jadi pemimpin negeri Merlion.

Namun sejumlah kalangan di Singapura menilai ada tiga alasan utama, wanita berusia 63 tahun itu bisa terpilih sebagai presiden Singapura yang berpenduduk 5,6 juta jiwa.

1. PENUHI KRITERIA

Pertama, Halimah Yacob menjadi satu-satunya kandidat Pemilihan Presiden Singapura 2017 yang menerima Sertifikat Kelayakan dari Elections Department (ELD), semacam badan urusan pemilu di Singapura.

Dari lima calon yang ada, hanya Halimah yang mendapatkan dua sertifikasi kelayakan untuk menjadi presiden Singapura berikutnya dari Presidential Election Committee PEC dan Community Committee.

Dua kandidat kuat Halimah, Mohamed Salleh Marican dan Farid Khan gagal memenuhi syarat, meski nominasi presiden resmi ditutup Rabu (13/9/2017) siang besok.

Baca Juga:  Berbuat Mesum di Bulan Ramadan, Pasangan Ini Dihukum Nyuci Kampung

Ini artinya warga Singapura tak perlu lagi melakukan pemungutan suara pada pekan kedua September mendatang. Berdasarkan undang-undang hanya Halimah yang berhak maju menjadi presiden.

2. ANTI DISKRIMINASI
Alasan kedua, Halimah Yacob diyakini akan menjadi pemersatu kaum di Singapura, masyarakat Melayu, India, China dan etnis lainnya. Pengalamannya selama lebih dari 20 tahun menjadi pejuang anti diskriminasi dan HAM, menjadi modal berharga untuk mengatasi ragam persoalan di Singapura.

Perempuan ini juga dikenal aktif berkampanye melawan kelompok Islam radikal. Dia kerap mengecam kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

“Saya tidak ragu ia mampu mengatasi halangan di depan. Menurut saya yang harus ia segera atasi adalah menyatukan kaum di Singapura, masyarakat Melayu, India, China, ini kerja utama setelah menjadi presiden,” kata Saleemah Ismail, yang mengenal dekat Halimah Yacob ketika sama-sama memperjuangkan nasib kaum perempuan Singapura.

“Sekarang kita sedikit sebanyak ada berbelah-belah, bukan saja antara bangsa, tetapi juga antara agama. Jadi kerjanya adalah menyatukan semua hal ini. Ini tugas yang sungguh berat untuk menyatukan kaum berbilang bangsa ini. Tapi saya yakin Mdm. Halimah mampu melakukannya,” kata Saleemah.

Baca Juga:  Djarot Saiful Hidayat Tiba di Medan

Halimah Yacob juga menyadari posisinya sebagai presiden. “Salah satu fokus dan fungsi utama presiden terpilih adalah bertindak sebagai kekuatan pemersatu. Tentunya ada pekerjaan yang harus saya lakukan, tapi yang terpenting adalah saya ingin warga Singapura bekerjasama dengan saya. Presiden mewakili seluruh ras, agama, dan komunitas di Singapura,” ujar Halimah seperti disiarkan Stasiun televisi Channel News Asia.

3. KOMITMENNYA JADI PELAYAN MAYARAKAT
Halimah Yacob yang kelahiran 23 Agustus 1954 memiliki campuran darah India dan Melayu. Mantan anggota Partai Aksi Rakyat PAP itu sempat menjadi anggota parlemen antara tahun 2001 hingga 2017 untuk dua konstituen berbeda, sebelum menjadi ketua parlemen Singapura selama delapan bulan, pada Januari hingga Agustus 2017.

Pada 7 Agustus ia mengundurkan diri dari posisi di parlemen untuk bertarung dalam pemilu presiden.

”Saya berjanji untuk melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk melayani masyarakat Singapura dan itu tidak berubah, apakah ada pemilu atau tidak ada pemilu,” katanya, kemarin.

Baca Juga:  Di Mapolda Sumut, Kapolri Juga Beri Kuis Nama Ikan Berhadiah Sepeda

”Semangat dan komitmen saya untuk melayani rakyat Singapura tetap sama. Saya tetap berkomitmen penuh untuk melayani Singapura,” ujarnya.

Halimah akan menggantikan posisi Tony Tan, yang telah 6 tahun menjabat sebagai presiden negara tersebut. Selain menjadi wanita pertama yang menjabat sebagai presiden, Halimah juga akan menjadi warga keturunan Melayu pertama yang menyandang jabatan presiden dalam kurun 47 tahun terakhir.

Orang Melayu terakhir yang menjadi presiden adalah Yusof Ishak, yang wajahnya menghiasi uang kertas Singapura. Yusof Ishak menjabat sebagai presiden antara tahun 1965-1970, tahun-tahun pertama kemerdekaan Singapura setelah berpisah dari Malaysia.

Bersama Lee Kuan Yew, perdana menteri pertama Singapura, Yusof Ishak bahu-membahu membangun negara multi-etnis itu.

Hingga kini, sudah 7 figur yang pernah menjabat sebagai Presiden Singapura. Mereka adalah Yusof Ishak (1965-1970), Benjamin Sheares (1971-1981), C. V. Devan Nair (1981-1985), Wee Kim Wee (1985-1993), Ong Teng Cheong (1993-1999), Sellapan Ramanathan (1999-2011), dan Tony Tan Keng Yam (2011-2017).  [ded|voa]

Terkait


Berita Terbaru