Home / NEWS / Unpab Temukan Tanaman Berpotensi sebagai Anti-COVID-19

Unpab Temukan Tanaman Berpotensi sebagai Anti-COVID-19


EDISIMEDAN.COM, MEDAN- Para peneliti dari Universitas Pembangunan Panca Budi (Unpab) Medan telah menemukan  tanaman (herbal) yang berpotensi sebagai antivirus alami untuk mencegah virus corona atau COVID-19.


“Beberapa komoditi jika dikonsumsi diduga kuat berpotensi mengatasi COVID-19, seperti daun sirih dan daun kari,” kata Rektor Unpab, Dr HM Isa Indrawan, SE, MM dalam siaran persnya yang diterima wartawan, Rabu (8/4).


Menurut Isa Indrawan, dari hasil penelitian para peneliti Tim Unpab yang dipimpin oleh Najla Lubis, ST, MSi menyatakan, di dalam tanaman daun sirih diduga mengandung senyawa metabolit sekunder turunan flavonoid dan saponin yang berpotensi sebagai antivirus, sedangkan daun kari berpotensi sebagai antibakteri dan antivirus karena mengandung senyawa metabolit sekunder turunan terpenoid.


Peneliti Unpab, tambahh rektor, telah melakukan penelitian sebelumnya bahwa ekstrak dan minyak atsiri dari daun kari sebagai antibakteri (terbukti) mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan bakteri gram negatif dengan cara menyebabkan lisis pada dinding sel bakteri. Hal ini juga dapat berlaku untuk virus, dimana dinding sel dari virus hampir sama dengan bakteri gram negatif, namun sedikit lebih tebal.

Baca Juga:  Banjir Bandang di Padangsidempuan, Pemprovsu Lakukan Tiga Hal ini


“Dan ini juga sudah diuji di laboratorium Unpab dengan kondisi yang menyerupai dinding sel virus, daun kari dapat menyebabkan lisis pada virus, termasuk Covid 19.  Jadi dapat disimpulkan, bahwa daun kari dan daun sirih, berpotensi sebagai antibakteri dan juga antivirus corona atau COVID 19,” kata rektor.


Ketua Tim Peneliti Unpab Najla Lubis menambahkan, timnya juga sedang melaksanakan penelitian lebih lanjut untuk memastikan pada konsentrasi berapa yang paling efektif dalam mengatasi COVID 19.


Peneliti kimia bahan alam ini yang tengah menempuh pendidikan program doktor Universitas Sumatera Utara (USU) sebelumnya juga telah membuktikan bahwa curcumin pada temulawak sebagai indikator awal adanya kandungan senyawa berbahaya (formalin dan boraks) pada produk olahan pangan. (Mahbubah Lubis)

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up