Volatilitas Pasar Global Melemah, MAMI Tetap Optimis

    45
    Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Ezra Nazula (berdiri), memberikan ulasan dan proyeksi kondisi pasar modal Indonesia di tahun 2018 disaksikan Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist MAMI, saat berlangsungnya acara "Market Update - Embracing volatilities" PT Manulife Aset Manajemen Indonesia di Jakarta, Kamis (26/4/2018). [edisiMedan.com/istimewa]

    EDISIMEDAN.com, JAKARTA – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) telah melihat meningkatnya volatilitas pasar finansial global. Pasar saham Indonesia ikut terpengaruh, dengan turun 1,08% (YTD 16 April 2018). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun ikut melemah -1,66% (YTD per 16 April 2018).

    “Volatilitas ini diperkirakan masih akan berlanjut karena kenaikan suku bunga acuan The Fed, kebijakan proteksionisme Amerika Serikat, dan kondisi geopolitik di Suriah,” ujar Chief Economist & Investment Strategist MAMI, Katarina Setiawan dalam acara Market Update – Embracing volatilities PT Manulife Aset Manajemen Indonesia di Jakarta, Kamis (26/4/2018).

    Namun menurut Katarina, kinerja pasar finansial Indonesia diperkirakan masih akan positif hingga akhir tahun 2018. Investor berpeluang mendapatkan potensi imbal hasil yang menarik dari volatilitas yang terjadi saat ini.

    “Beragam faktor dari dalam negeri turut mendukung pemulihan ekonomi Indonesia, seperti peningkatan belanja pemerintah dan ekspansi subsidi yang menopang daya beli, serta pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB),” jelasnya.

    Katarina Setiawan mengimbau, masyarakat investor tidak perlu panik dengan apa yang terjadi di pasar. Kenaikan suku bunga Amerika Serikat telah diantisipasi oleh pasar. Lebih lanjut Katarina menjelaskan bahwa ada beberapa faktor pendukung pasar finansial Indonesia.

    “Pertama, bank sentral di kawasan Asia secara umum tetap akan menjaga suku bunga rendah di tengah kenaikan Fed Rate. Kebijakan suku bunga rendah tetap bisa dilakukan karena adanya stabilitas inflasi, sinkronisasi pertumbuhan global, dan prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” urainya.

    Kedua, belajar dari pengalaman masa lalu, ketegangan dagang Amerika Serikat dan China kemungkinan besar tidak akan berkembang menjadi perang dagang. Lagipula secara keseluruhan, eksposur perdagangan kawasan Asia ke Amerika Serikat masih cukup terkendali.

    “Jika ketegangan meningkat, terdapat potensi bahwa daya saing produk Indonesia akan meningkat dan memberikan keuntungan bagi Indonesia,” sambung Katarina.

    Sementara faktor ketiga pendukung pasar finansial Indonesia, terkait ketegangan geopolitik di Suriah yang kemungkinan meningkatkan kenaikan harga minyak sebetulnya berpotensi meningkatkan PDB Indonesia.

    BACA JUGA

    “Keempat, Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai kunci dalam meredam volatilitas pasar finansial,“ ujar Katarina.

    Katarina mengatakan bahwa pemulihan ekonomi masih akan terus berlanjut. Belanja negara pada dua bulan pertama tahun 2018 mencapai 11,2% dari target. Sementara belanja sosial, yang menjadi kunci penting untuk menopang daya beli masyarakat, naik tajam.

    Pemerintah juga fokus menjaga daya beli masyarakat. Sejumlah inisiatif diluncurkan pemerintah untuk mendukung daya beli, seperti pemberian THR untuk PNS dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan sebelumnya, penurunan tarif tol, peningkatan penyerapan dana desa, dan ketersediaan BBM subsidi yang lebih luas.

    “Untuk mendukung pertumbuhan manufaktur, pemberian insentif pajak korporasi diberikan untuk investasi baru dan bagi korporasi yang melakukan ekspansi,” ujar Katarina. [rel]

    Apa Tanggapan Anda?