Dugaan Keracunan MBG di Karo, Leo Minta Pemerintah Bertanggung Jawab Pastikan Korban Pulih

Tokoh Pemuda Karo, Leo Bastari Bukit SSos MIKom

EDISIMEDAN.com, MEDAN– Kondisi Febiola Br Purba (Feby), siswi asal Kabupaten Karo yang menjadi salah satu korban dugaan keracunan massal setelah menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG), masih membutuhkan perhatian. Hingga kini, Feby masih menjalani pengobatan secara rawat jalan di Rumah Sakit (RS) Adam Malik Medan.

Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Tokoh Pemuda Karo, Leo Bastari Bukit SSos MIKom. Ia meminta pemerintah dan seluruh pihak terkait tidak hanya memastikan penanganan terhadap para siswa yang terdampak, tetapi juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di Kabupaten Karo.

Leo mengatakan, keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG. Apalagi, program tersebut menyasar siswa yang merupakan generasi penerus bangsa.

“Kalau sampai ada anak yang masih harus menjalani pengobatan akibat dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG, tentu ini harus menjadi perhatian serius. Jangan hanya fokus pada distribusi makanan, tetapi keamanan dan kualitas makanan juga harus benar-benar dipastikan,” ujar Leo.

Menurutnya, pemerintah perlu memastikan seluruh proses penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga pendistribusian kepada siswa dilakukan sesuai standar keamanan pangan.

Leo juga meminta agar kondisi Feby dan siswa lainnya yang terdampak mendapat perhatian dan pendampingan yang memadai hingga benar-benar dinyatakan pulih.

“Anak-anak yang menjadi korban harus dipastikan mendapatkan penanganan terbaik sampai kondisi mereka benar-benar pulih. Jangan sampai setelah kejadian berlalu, perhatian terhadap mereka juga ikut berhenti,” katanya.

Selain penanganan terhadap korban, Leo mendorong adanya investigasi untuk mengetahui secara objektif penyebab munculnya dugaan keracunan tersebut. Menurutnya, hasil pemeriksaan penting untuk menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Kita tentu mendukung program MBG karena tujuannya sangat baik untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak. Tetapi pelaksanaannya harus benar-benar memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan. Jangan sampai program yang baik justru menimbulkan persoalan bagi anak-anak,” tegasnya.

Leo berharap kejadian tersebut menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat pengawasan terhadap seluruh penyedia makanan MBG. Pengawasan, kata dia, tidak boleh hanya dilakukan setelah muncul kasus, tetapi harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

“Program MBG harus berjalan dengan baik, transparan dan bertanggung jawab. Yang paling utama adalah memastikan makanan yang sampai ke tangan siswa benar-benar bergizi, higienis dan aman dikonsumsi,” pungkas Leo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *