USU Kembangkan Padi Terapung, Budidaya Ikan, dan Pakan Mandiri di Lubuk Bayas

EDISIMEDAN.com, MEDAN- Lahan tergenang yang selama ini sulit dimanfaatkan untuk pertanian konvensional mulai dikembangkan menjadi sumber pangan produktif di Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Desa Binaan, Universitas Sumatera Utara (USU) mengembangkan model padi terapung organik yang terintegrasi dengan budidaya ikan dan pembuatan pakan mandiri berbasis sumber daya lokal.
Inovasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menjawab persoalan lahan yang kurang produktif, tetapi juga membangun sebuah sistem pangan desa yang lebih terpadu. Dalam satu kawasan, masyarakat didorong untuk dapat menghasilkan padi sebagai sumber karbohidrat, ikan sebagai sumber protein, sekaligus mengembangkan pakan ikan secara mandiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial.
Program Desa Binaan USU ini diketuai oleh Dr. Sri Fajar Ayu, S.P., M.M., dengan melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas Ir. Meiriani, M.P.; Ir. Revandy Iskandar Muda Damanik, M.Si., M.Sc., Ph.D.; Nahrisa Rahmadhani, S.Agr., M.Si.; Atmadinata Aviantara, S.Pi., M.Tr.Pi.; dan Sukmawati Utami, S.Tr.Pt., M.Pt. Komposisi tim tersebut mencakup kepakaran agribisnis, budidaya pertanian, bioteknologi pertanian, fitopatologi, sumber daya perikanan, serta aspek sosial dan ekonomi sehingga inovasi dikembangkan melalui pendekatan yang terintegrasi.
Kegiatan lapangan dilaksanakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dengan melibatkan kelompok tani dan masyarakat Desa Lubuk Bayas. Rangkaian kegiatan mencakup pengenalan konsep padi terapung organik, pemanfaatan lahan tergenang, desain rakit dan media tanam, integrasi dengan budidaya ikan, peninjauan demplot, hingga pelatihan dan demonstrasi pembuatan pakan ikan mandiri.
Ketua Tim Pengabdian Desa Binaan USU, Dr. Sri Fajar Ayu, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari kondisi nyata yang dihadapi masyarakat. Desa Lubuk Bayas memiliki basis pertanian yang kuat, tetapi keberadaan lahan rawa dan genangan menyebabkan sebagian lahan sulit dimanfaatkan dengan metode budidaya padi konvensional.
Kondisi tersebut tidak seharusnya membuat lahan kehilangan nilai produktif. Melalui teknologi yang adaptif, lahan tergenang justru dapat dikembangkan menjadi bagian dari sistem produksi pangan masyarakat.
“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa lahan tergenang bukan berarti lahan yang tidak memiliki nilai. Dengan inovasi yang sesuai dengan kondisi lokal, lahan tersebut dapat kembali produktif dan bahkan dikembangkan menjadi sistem pangan yang terintegrasi antara padi, ikan, dan sumber daya lokal yang tersedia di masyarakat,” ujar Dr.Sri Fajar Ayu.
Pakan Mandiri untuk Tekan Ketergantungan Pakan Pabrikan
Salah satu bagian penting dari inovasi Desa Binaan USU adalah pengembangan pakan ikan mandiri berbasis sumber daya lokal.

Aspek ini menjadi perhatian karena biaya pakan merupakan salah satu tantangan terbesar dalam usaha budidaya ikan skala masyarakat. Ketergantungan terhadap pelet komersial yang harganya berfluktuasi dapat menyebabkan biaya produksi meningkat dan mempersempit keuntungan pembudidaya. Karena itu, tim USU memperkenalkan pemanfaatan bahan-bahan yang dapat diperoleh atau dikembangkan di sekitar masyarakat, seperti maggot Black Soldier Fly (BSF), dedak, serta berbagai bahan organik lokal, untuk dikembangkan menjadi alternatif bahan pakan ikan.Lahan tergenang yang selama ini sulit dimanfaatkan untuk pertanian konvensional mulai dikembangkan menjadi sumber pangan produktif di Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Desa Binaan, Universitas Sumatera Utara (USU) mengembangkan model padi terapung organik yang terintegrasi dengan budidaya ikan dan pembuatan pakan mandiri berbasis sumber daya lokal.

Inovasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menjawab persoalan lahan yang kurang produktif, tetapi juga membangun sebuah sistem pangan desa yang lebih terpadu. Dalam satu kawasan, masyarakat didorong untuk dapat menghasilkan padi sebagai sumber karbohidrat, ikan sebagai sumber protein, sekaligus mengembangkan pakan ikan secara mandiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial.

 

Bacaan Lainnya

Program Desa Binaan USU ini diketuai oleh Dr. Sri Fajar Ayu, S.P., M.M., dengan melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas Ir. Meiriani, M.P.; Ir. Revandy Iskandar Muda Damanik, M.Si., M.Sc., Ph.D.; Nahrisa Rahmadhani, S.Agr., M.Si.; Atmadinata Aviantara, S.Pi., M.Tr.Pi.; dan Sukmawati Utami, S.Tr.Pt., M.Pt. Komposisi tim tersebut mencakup kepakaran agribisnis, budidaya pertanian, bioteknologi pertanian, fitopatologi, sumber daya perikanan, serta aspek sosial dan ekonomi sehingga inovasi dikembangkan melalui pendekatan yang terintegrasi.

Kegiatan lapangan dilaksanakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dengan melibatkan kelompok tani dan masyarakat Desa Lubuk Bayas. Rangkaian kegiatan mencakup pengenalan konsep padi terapung organik, pemanfaatan lahan tergenang, desain rakit dan media tanam, integrasi dengan budidaya ikan, peninjauan demplot, hingga pelatihan dan demonstrasi pembuatan pakan ikan mandiri.

 

 

Ketua Tim Pengabdian Desa Binaan USU, Dr. Sri Fajar Ayu, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari kondisi nyata yang dihadapi masyarakat. Desa Lubuk Bayas memiliki basis pertanian yang kuat, tetapi keberadaan lahan rawa dan genangan menyebabkan sebagian lahan sulit dimanfaatkan dengan metode budidaya padi konvensional.

 

 

Kondisi tersebut tidak seharusnya membuat lahan kehilangan nilai produktif. Melalui teknologi yang adaptif, lahan tergenang justru dapat dikembangkan menjadi bagian dari sistem produksi pangan masyarakat.

“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa lahan tergenang bukan berarti lahan yang tidak memiliki nilai. Dengan inovasi yang sesuai dengan kondisi lokal, lahan tersebut dapat kembali produktif dan bahkan dikembangkan menjadi sistem pangan yang terintegrasi antara padi, ikan, dan sumber daya lokal yang tersedia di masyarakat,” ujar Dr.Sri Fajar Ayu.

Pakan Mandiri untuk Tekan Ketergantungan Pakan Pabrikan
Salah satu bagian penting dari inovasi Desa Binaan USU adalah pengembangan pakan ikan mandiri berbasis sumber daya lokal.

Aspek ini menjadi perhatian karena biaya pakan merupakan salah satu tantangan terbesar dalam usaha budidaya ikan skala masyarakat. Ketergantungan terhadap pelet komersial yang harganya berfluktuasi dapat menyebabkan biaya produksi meningkat dan mempersempit keuntungan pembudidaya. Karena itu, tim USU memperkenalkan pemanfaatan bahan-bahan yang dapat diperoleh atau dikembangkan di sekitar masyarakat, seperti maggot Black Soldier Fly (BSF), dedak, serta berbagai bahan organik lokal, untuk dikembangkan menjadi alternatif bahan pakan ikan.

Program tersebut tidak hanya memperkenalkan bahan baku, tetapi juga memberikan pengetahuan mengenai pengolahan dan formulasi pakan. Atmadinata Aviantara, S.Pi., M.Tr.Pi., yang memiliki kepakaran sumber daya perikanan, berperan dalam penyusunan komposisi pakan ikan berbasis maggot, uji coba pakan pada sistem mina padi, serta monitoring pertumbuhan ikan.

Dalam kegiatan bersama masyarakat, Atmadinata memberikan pengenalan mengenai maggot BSF dan prinsip formulasi pakan lokal yang kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan dan pencampuran pakan ikan mandiri bersama tim pengabdian dan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu membudidayakan ikan, tetapi secara bertahap juga memiliki kemampuan memproduksi sebagian kebutuhan pakannya sendiri.Program tersebut tidak hanya memperkenalkan bahan baku, tetapi juga memberikan pengetahuan mengenai pengolahan dan formulasi pakan. Atmadinata Aviantara, S.Pi., M.Tr.Pi., yang memiliki kepakaran sumber daya perikanan, berperan dalam penyusunan komposisi pakan ikan berbasis maggot, uji coba pakan pada sistem mina padi, serta monitoring pertumbuhan ikan.

Dalam kegiatan bersama masyarakat, Atmadinata memberikan pengenalan mengenai maggot BSF dan prinsip formulasi pakan lokal yang kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan dan pencampuran pakan ikan mandiri bersama tim pengabdian dan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu membudidayakan ikan, tetapi secara bertahap juga memiliki kemampuan memproduksi sebagian kebutuhan pakannya sendiri.

Kegiatan turut dihadiri Kepala Desa Lubuk Bayas, perwakilan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Serdang Bedagai Jimmy Simatupang, serta Fredick Broven Ekayanta, S.I.P., M.IP. yang hadir mewakili Ketua LPM USU. Keterlibatan pemerintah desa, pemerintah daerah, kelompok tani, masyarakat dan perguruan tinggi dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan inovasi yang diperkenalkan tidak berhenti. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *