Langkat – Tumpukan ikan kecil yang semula nyaris tak memiliki nilai jual justru menjadi awal dari sebuah usaha yang perlahan mengubah kehidupan ekonomi warga di Dusun X, Paluh Baru, Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat. Di tangan Sapriani (42), ikan yang sebelumnya kerap terbuang itu diolah menjadi keripik baronang yang kini dipasarkan hingga ke berbagai daerah.
Sapriani merupakan Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Maju Bersama Kuliner. Ia menceritakan, gagasan mengolah ikan tersebut bermula dari persoalan sederhana yang dihadapi kelompoknya sejak memiliki rumah ikan yang dibangun melalui dukungan pihak terkait.
“Dulu kami punya rumah ikan. Ikannya melimpah, terutama ikan-ikan kecil. Sekali panen bisa sampai 70 kilogram, bahkan 100 kilogram,” ujar Sapriani di sela-sela pelatihan strategi dan toolkit Mangrove for Coastal Resilience (M4CR), Kamis (8/10/2026).
Persoalannya, ikan berukuran kecil tersebut tidak mudah dijual. Ketika diolah menjadi ikan asin pun belum memberikan nilai ekonomi yang berarti. Kondisi itu kemudian mendorong Sapriani dan kelompoknya mencari cara agar hasil tangkapan dari kawasan mangrove tidak berakhir sebagai limbah.
Pada 2022, percobaan pengolahan pun dimulai. Sapriani mengolah ikan tersebut di dapur secara sederhana hingga akhirnya menemukan bentuk produk yang kemudian dikenal sebagai keripik baronang.
“Waktu itu kami bingung ikan ini mau diapakan. Ikan asin tidak laku, dijual dagingnya juga tidak laku. Akhirnya saya coba olah sendiri di dapur. Dari situ jadilah keripik baronang,” katanya.
Produk tersebut menjadi bagian dari upaya kelompok memberikan nilai tambah terhadap hasil perikanan yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi memadai. Keberadaan mangrove yang menjadi habitat ikan juga membuat ketersediaan bahan baku relatif terjaga.
Namun, perjalanan usaha itu tidak langsung berjalan dengan kapasitas besar. Pada masa awal, proses produksi masih dilakukan secara manual sehingga kemampuan produksi hanya berkisar 700 hingga 1.000 bungkus per bulan.
Perubahan mulai terasa setelah kelompok memperoleh pendampingan dan dukungan melalui program M4CR pada 2024. Sapriani mengatakan, dukungan tersebut tidak hanya menyentuh sisi peralatan produksi, tetapi juga pengemasan, pemasaran dan pembangunan rumah produksi.
“Dulu semuanya manual. Setelah ada pendampingan, kami belajar pemasaran, packaging, kemudian dibantu mesin penggorengan, pengering minyak dan rumah produksi. Jadi sekarang kami bisa memproduksi dalam skala lebih besar,” ujarnya.
Kapasitas produksi kini meningkat menjadi sekitar 2.000 bungkus per bulan atau bahkan lebih, tergantung permintaan. Produk tersebut dipasarkan melalui jaringan konsumen langsung maupun media sosial dan telah menjangkau sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Dumai, Jakarta hingga daerah di luar Pulau Sumatera seperti Bandung hingga Australia.
Sapriani mengatakan, sebagian pembeli bahkan datang dari luar daerah tanpa dirinya mengetahui secara pasti bagaimana mereka memperoleh informasi mengenai produk tersebut. Pesanan biasanya datang melalui komunikasi langsung dan pelanggan meminta produk dikirim ke daerah mereka.
Di tingkat lokal, keripik baronang perlahan mulai melekat sebagai salah satu produk khas dari kawasan Pasar Rawa. Produk itu juga dipasarkan kepada pengunjung wisata pemancingan yang dikelola di kawasan tersebut sehingga dapat menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang datang.
“Kalau orang datang ke sini, sekarang sudah ada yang mencari keripik baronang. Mereka bilang mau cari keripik baronang untuk oleh-oleh,” kata Sapriani.
Aktivitas produksi yang terus berkembang kemudian memberikan dampak terhadap ekonomi anggota kelompok. Dengan kapasitas produksi sekitar 2.000 bungkus per bulan, pendapatan kelompok disebut dapat mencapai sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta per bulan.
Bagi Sapriani, angka tersebut bukan sekadar nilai transaksi. Di baliknya terdapat perubahan kehidupan sejumlah perempuan yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi kini dapat terlibat dalam proses produksi dan memperoleh penghasilan.
Ia mencontohkan Salamah, bendahara kelompok, yang sebelumnya menghadapi beban utang hingga sempat berencana menjual rumah. Setelah bergabung dan bekerja bersama kelompok, kondisi ekonominya perlahan membaik.
“Dulu ada anggota kami yang sampai ingin menjual rumah karena utangnya banyak. Sekarang alhamdulillah, utangnya sudah banyak yang lunas. Suaminya bekerja, dia juga bekerja bersama kami,” ujar Sapriani.
Model kerja kelompok yang diterapkan Sapriani juga dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan anggota. Mereka yang terlibat dalam pekerjaan seperti menggoreng atau membelah dan mengolah ikan mendapatkan bayaran atas pekerjaan yang dilakukan.
Menurut Sapriani, pola tersebut penting karena masyarakat membutuhkan pendapatan yang dapat dirasakan secara langsung. Karena itu, keberlangsungan usaha harus berjalan seiring dengan manfaat ekonomi bagi anggota kelompok.
Kelompok Maju Bersama Kuliner sendiri pada awalnya melibatkan sekitar 20 orang yang mendapat pembelajaran pengolahan. Dalam perkembangannya, anggota yang tercatat dalam surat keputusan berjumlah 10 orang, sementara keterlibatan masyarakat dalam kegiatan produksi berkembang hingga sekitar 20 orang, termasuk generasi yang lebih muda.
Sapriani berharap keterlibatan anak-anak muda dapat menjadi keberlanjutan bagi usaha tersebut ketika anggota yang lebih senior mulai memasuki usia lanjut.
Selain meningkatkan kapasitas produksi, pendampingan juga memperluas pengetahuan kelompok. Dalam pelatihan yang diikuti, Sapriani dan anggota memperoleh pembelajaran mengenai pemasaran, pengolahan produk hingga pengemasan.
“Yang tadinya kami kurang memahami, setelah dibimbing kami jadi lebih tahu, terutama tentang pemasaran, pengolahan dan packaging. Banyak ilmu yang kami dapat,” katanya.
Meski telah menjangkau pasar di berbagai daerah, Sapriani mengakui kelompoknya masih dalam tahap belajar mengembangkan pemasaran digital. Mereka kini mulai mempelajari pemanfaatan TikTok, sementara pemasaran melalui platform marketplace seperti Shopee dan Tokopedia belum dilakukan.
Bagi Sapriani, perjalanan keripik baronang menunjukkan bagaimana potensi yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat berubah ketika masyarakat memperoleh pengetahuan, pendampingan dan sarana produksi yang memadai.
Dari ikan kecil yang dahulu melimpah dan terbuang, lahir sebuah produk yang kini mampu menghasilkan pendapatan bagi kelompok, membuka ruang kerja bagi perempuan, sekaligus memberi nilai tambah terhadap potensi perikanan yang berkaitan dengan ekosistem mangrove.
Perjalanan itu dimulai dari dapur sederhana pada 2022. Kini, keripik baronang tidak lagi sekadar cara menghabiskan ikan yang sulit dijual, tetapi telah menjadi sumber penghidupan bagi warga yang memilih mengolah potensi kampungnya sendiri menjadi produk bernilai ekonomi. (Budi)





















