Petani Hadapi Tantangan Berat Pada Musim Tanam Mendatang, Dampak Perang Lambungkan Harga Pupuk

EDISIMEDAN.com,  MEDAN– Berdasarkan data dari tradingeconomics.com harga sulfur yang menjadi bahan baku penting untuk pupuk alami kenaikan dan capai rekor tertinggi di level CNY 5.383 per ton. Perang Iran dengan AS/Israel telah memicu gangguan pada rantai pasok pupuk.

Pengamar ekonomi,  Gunawan memgakatan kenaikan bahan baku pupuk tersebut dikuatirkan akan membuat kemampuan bercocok tanam petani melemah. Dan dikuatirkan akan memicu penurunan produksi petani dan berpotensi memicu kenaikan harga atau inflasi di masa yang akan datang.

 

‘Saya mencotohkan dalam dua pekan terkahir ini, di wilayah kabupaten Deli Serdang telah terjadi kenaikan harga pupuk non subsidi. Dari informasi yang saya himpun lewat pedagang pupuk, harga pupuk jenis Urea non subsidi naik dari 400 ribu menjadi 450 ribu per sak. Untuk jenis pupuk KCL naik dari 400 menjadi 430 ribu per sak. Tidak berhenti disitu untuk harga plastik (mulsa) naik dari 250 ribu per gulung (10 Kg) menjadi 280 ribu saat ini,” ucapnya pada Kamis (26/3).

 

Disisi lainnya, petani cabai di deli Serdang saat ini juga tengah dirugikan dengan harga jual cabai di bawah harga pokok produksinya. Berdasarkan pemantauan PIHPS kota medan, rata-rata harga cabai merah dijual 19.800 per Kg (26/03). Dan dari hasil pemantauan langsung di pasar tradisional tanjung morawa deli Serdang, harga cabai merah ada yang dijual 16 ribu per Kg nya. Dan menurut pengakuan petani cabai di wilayah Deli Serdang, harga jual di level petani terbilang murah dalam rentang 7 hingga 10 ribu per Kg.

 

Angka tersebut masih jauh dibawah harga pokok produksi petani sebesar Rp.15.500 per Kg. Atau kalau petani mau diuntungkan, maka setidaknya harga cabai merah di level konsumen itu minimal bisa mencapai 27 ribu per Kg. Sehingga kemampuan modal petani untuk bercocok tanam kembali tetap terjaga.

 

Petani cabai saat ini terbebani dengan harga jual yang lebih rendah dari harga produksi, ditambah dengan ancaman kenaikan harga pupuk. Terlebih petani cabai adalah petani yang menggunakan pupuk non subsidi. Sehingga ancaman penurunan produksi kedepan ini sangat nyata. Pemerintah harus turun tangan untuk memastikan bahwa proses bercocok tanam tetap berlanjut dengan skala ukuran yang tetap dipertahankan.

 

Sejumlah kendala dilapangan yang membuat petani kehilangan kemampuan bercocok tanam harus bisa di mitigasi. Saat ini petani cabai hanya memikirkan bagaimana caranya menjual dengan harga yang pantas. Namun memasuki musim tanam selanjutnya masalah harga pupuk yang naik ditambah dengan gangguan modal akan menjadi isu utama. Dan dampak perang ini akan sangat dirasakan bagi semua petani (tidak hanya cabai) saat mereka memulai mengolah lahannya. (Red)

You May Also Like

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *