EDISIMEDAN.com, MEDAN– UPTD Khusus Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem Medan meluncurkan mobil transportasi rehabilitasi psikososial “Temani” sebagai upaya meningkatkan akses layanan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), khususnya dari kalangan kurang mampu.
Direktur UPTD Khusus RS Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem Medan, Sri Suriani Purnamawati, mengatakan peluncuran mobil tersebut merupakan bagian dari program rehabilitasi psikososial daycare yang selama ini rutin dilaksanakan rumah sakit.
“Temani merupakan singkatan dari Strategi Meningkatkan Kemandirian. Selain itu, kami juga ingin menampilkan rumah sakit jiwa yang lebih humanis. Pasien kami perlakukan sebagai sahabat dan teman agar proses pemulihan psikososial mereka lebih cepat,” ujarnya saat peluncuran program tersebut, Kamis.
Menurut Sri Suriani, salah satu kendala utama yang dihadapi pasien dalam mengikuti program rehabilitasi psikososial adalah keterbatasan biaya transportasi. Padahal, pasien yang telah menjalani rawat jalan diwajibkan mengikuti hingga 20 kali kunjungan rehabilitasi.
“Pasien datang bukan untuk mendapatkan obat, tetapi mengikuti kegiatan rehabilitasi psikososial. Banyak yang kesulitan hadir karena biaya transportasi dan faktor ekonomi lainnya,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, RS Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang merupakan perpanjangan tangan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), menghadirkan layanan transportasi bagi pasien.
“Mobil transportasi ini merupakan salah satu program UPZ yang dibentuk di rumah sakit jiwa. Tujuannya membantu pasien yang membutuhkan agar tetap bisa mengikuti rehabilitasi secara rutin,” jelasnya.
Selain layanan transportasi, pihak rumah sakit juga tengah menjajaki pembangunan rumah singgah bagi pasien yang berasal dari luar Kota Medan.
Rumah singgah tersebut nantinya diperuntukkan bagi pasien yang harus mengikuti program rehabilitasi psikososial selama 20 hari berturut-turut.
“Kami berharap rumah singgah dapat berada di sekitar lingkungan rumah sakit sehingga pasien tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi tambahan. Misalnya pasien dari Tapanuli Selatan atau Tapanuli Utara yang ingin mengikuti program rehabilitasi bisa tinggal sementara di rumah singgah tersebut,” katanya.
Sri Suriani menegaskan pemulihan ODGJ tidak cukup hanya mengandalkan terapi psikofarmaka atau pemberian obat-obatan. Rehabilitasi psikososial dinilai memiliki peran penting dalam mengembalikan kemampuan pasien menjalankan fungsi sosialnya.
“Tujuan rehabilitasi adalah membangun kembali kebiasaan positif pasien. Misalnya selama 20 hari mereka belajar bercocok tanam atau memelihara ternak. Ketika kembali ke rumah, aktivitas itu diharapkan bisa terus dilanjutkan dengan dukungan keluarga,” ujarnya.
Melalui program tersebut, keluarga juga diberikan pemahaman agar menyediakan ruang dan fasilitas sederhana yang memungkinkan pasien tetap menjalankan aktivitas produktif sehari-hari.
Untuk tahap awal, layanan transportasi Temani masih difokuskan bagi pasien di wilayah Medan, Binjai, dan Deli Serdang (Mebidang). Namun program rehabilitasi psikososial daycare tetap terbuka bagi pasien dari berbagai daerah di Sumatera Utara.
“Kegiatan rehabilitasi sosialnya terbuka untuk seluruh pasien yang ingin mengikuti. Hanya saja untuk layanan transportasi saat ini masih kami batasi di wilayah Mebidang,” pungkasnya.(RED)
