EDISIMEDAN.com, MEDAN- Penemuan hidrokarbon baru kini semakin banyak berada di lokasi menantang karena lapangan migas di darat dan perairan dangkal yang lebih mudah dikembangkan umumnya telah ditemukan dan diproduksi. Eksplorasi bergeser ke wilayah frontier, seperti laut dalam dan kawasan yang minim aktivitas eksplorasi.
Fatar Yani Abdurrahman, mantan Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas), mengatakan pengembangan laut dalam lebih menantang daripada pengembangan konvensional karena kedalaman air, sistem produksi bawah laut (subsea), kondisi lingkungan yang kompleks, serta kebutuhan fasilitas dan metode instalasi khusus.
Menurut dia, kajian lapangan laut dalam juga memerlukan kematangan teknologi (technology maturity) dan rekam jejak operasi (proven technology) untuk menjamin keselamatan, keandalan, dan keberlanjutan produksi. Akibatnya, pilihan teknologi lebih terbatas dan investasinya lebih besar daripada lapangan konvensional.
Cadangan dan investasi dengan risiko teknis, kesiapan teknologi, keandalan produksi, dan keekonomian lapangan merupakan poin utama dalam evaluasi Plan of Development (POD) laut dalam, seperti South Andaman.
Fatar menyatakan pengembangan gas South Andaman perlu berfokus pada pertumbuhan industri, nilai tambah, dan manfaat ekonomi bagi Aceh, bukan sekadar lokasi pemrosesan. Keberadaan sumber gas baru akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas apabila tersedia industri yang mampu menyerap gas tersebut dengan harga yang kompetitif.
“Yang paling penting adalah gas ini diserap oleh industri. Kalau mau dibangun di daerah, industri apa? Bisa pupuk, petrokimia, metanol, GTL, dan banyak industri lainnya,” kata Fatar, menekankan potensi dan nilai ekonomi, investasi, serta penyerapan tenaga kerja.
Jangan Hanya Bicara Lokasi Processing
Menurut Fatar, pembangunan fasilitas di darat tidak otomatis menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar apabila tidak terdapat pasar atau industri yang menggunakan gas tersebut.
Karena itu, pembahasan pengembangan South Andaman perlu diperluas dari sekadar persoalan lokasi fasilitas menjadi bagaimana membangun rantai pemanfaatan gas, sehingga gas yang dihasilkan memberikan nilai tambah di darat melalui pembangunan industri pengguna gas. “Untuk pertumbuhan ekonomi di darat, yang diperlukan adalah industri-industri yang menyerap gas itu,” ujarnya.
Fatar mengingatkan bahwa lokasi fasilitas processing tidak otomatis menentukan besarnya multiplier effect (dampak pengganda) bagi perekonomian daerah.
Aktivitas offshore tetap dapat membuka peluang bagi tenaga kerja dan perusahaan lokal. Rantai pasok dapat melibatkan logistik, jasa pendukung operasi, penyedia kebutuhan fasilitas offshore, hingga transportasi kondensat menuju darat.
Namun, menurut Fatar, dampak ekonomi yang lebih besar justru dapat tercipta apabila gas digunakan sebagai bahan baku bagi kegiatan industri di darat. “Yang paling penting adalah gas ini diserap oleh industri. Itu baru benar kalau kita ingin membangun nilai tambah di daerah,” katanya.
Fatar juga mengingatkan agar multiplier effect tidak hanya diukur dari jumlah pekerja yang berada di fasilitas processing.
“Jangan berpikir fasilitas seperti ORF itu akan menyerap banyak tenaga kerja. Sekarang banyak fasilitas sudah otomatis. Yang penting justru industri turunannya,” ujarnya.
Harga Gas Menjadi Kunci Industrialisasi
Tantangan berikutnya adalah harga gas. Menurut Fatar, keberadaan cadangan gas tidak dengan sendirinya menjamin tumbuhnya industri apabila harga gas yang sampai kepada konsumen terlalu tinggi. Industri kimia dan petrokimia sangat sensitif terhadap harga gas karena gas merupakan salah satu komponen utama biaya produksi.
“Kalau industri kimia harus membeli gas dengan harga 8 atau 9 dolar, sudah pasti tidak bisa. Mereka akan rugi,” kata Fatar. Karena itu, diperlukan perhitungan keekonomian yang mempertemukan kepentingan proyek hulu dengan kemampuan industri untuk menyerap gas.
Fatar menyebut mekanisme seperti Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebagai salah satu referensi dalam pembahasan harga untuk industri. Namun, kebijakan harga juga memiliki konsekuensi terhadap bagian penerimaan negara sehingga keseluruhan skema harus dihitung secara ekonomi.
Keekonomian Harus Dilihat Menyeluruh
Fatar menekankan bahwa perbandingan berbagai konsep pengembangan South Andaman tidak cukup dilakukan berdasarkan besarnya investasi awal atau capital expenditure (Capex). Biaya operasi sepanjang umur proyek juga harus diperhitungkan. Infrastruktur yang lebih kompleks dan mahal dapat meningkatkan investasi dan biaya operasi, yang pada akhirnya memengaruhi keekonomian proyek maupun penerimaan negara.
“Kalau saya mau membandingkan, saya lihat mana yang lebih ekonomis. Kalau tidak ekonomis, pendapatan untuk negara juga akan berkurang karena biaya operasinya bertambah,” katanya.
Dengan demikian, pilihan konsep pengembangan memang perlu didasarkan pada keekonomian keseluruhan, bukan semata-mata preferensi mengenai lokasi fasilitas.
Kepastian cadangan juga menjadi faktor penting. Menurut Fatar, hasil temuan belum tentu seluruhnya dapat dikategorikan sebagai volume yang nantinya dapat diproduksikan secara ekonomis.
Karena itu, pembangunan fasilitas dalam skala besar sebaiknya mempertimbangkan tingkat kepastian cadangan dan kemampuan produksi sumur. Pengembangan secara bertahap dapat menjadi salah satu pendekatan apabila data reservoir masih terus berkembang.
Fatar menyebut alternatif fasilitas dengan skala yang disesuaikan. Jika kemudian ditemukan tambahan cadangan, konsep pengembangan dapat kembali dievaluasi dan diperbesar sesuai kebutuhan.
Ia juga mengingatkan bahwa fasilitas LNG Arun yang telah berusia lama tidak otomatis menjadi satu-satunya solusi bagi gas South Andaman. Kondisi peralatan, teknologi, keekonomian revamping, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan proyek saat ini tetap harus dievaluasi.
Kepastian Investasi Perlu Dijaga
Di luar aspek teknis dan ekonomi, Fatar menekankan pentingnya kepastian investasi dan keamanan dalam menjaga minat investor untuk melanjutkan pengembangan.
Proyek hulu migas membutuhkan investasi besar dan memiliki periode pengembalian yang panjang. Ketidakpastian yang berkepanjangan dapat menyebabkan investor menunda keputusan, bahkan mempertimbangkan kembali investasinya.
“Saya selalu menyarankan, ini kesempatan. Kalau memang mau maju, segerakan saja. Jangan sampai terus tertahan,” kata Fatar.
Menurutnya, investor akan memperhitungkan kepastian keamanan maupun kepastian investasinya sebelum menanamkan modal dalam jumlah besar.
Jalankan Proyek, Perkuat Pengawasan
Fatar mendorong agar peluang pengembangan South Andaman tidak dibiarkan terlalu lama tertahan. Namun, percepatan pengembangan harus tetap diikuti tata kelola dan pengawasan yang kuat.
“Kalau saya sebagai rakyat, jalankan dulu dan kita lihat. Yang penting kita monitor dan awasi,” ujarnya.
Menurut Fatar, proyek perlu dilaksanakan sesuai dengan prinsip good governance dan tetap berada dalam pengawasan agar investasi yang besar tersebut benar-benar menghasilkan manfaat bagi negara dan masyarakat.
Dengan demikian, isu strategis pengembangan South Andaman bukan hanya di mana gas diproses, tetapi bagaimana gas tersebut dapat diproduksikan secara ekonomis, memiliki pasar, mendorong tumbuhnya industri, serta menciptakan nilai tambah bagi Aceh dan perekonomian nasional.
Keberhasilan South Andaman pada akhirnya perlu diukur tidak hanya dari beroperasinya lapangan gas, tetapi juga dari seberapa jauh sumber daya tersebut mampu menjadi penggerak kegiatan ekonomi di darat.(red)





















