EDISIMEDAN.com, MEDAN– Ketua Umum Ikatan Konsultan Kesehatan Indonesia (IKKESINDO) Dr. dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS mendorong rumah sakit di Sumatera Utara (Sumut) meningkatkan mutu pelayanan dan tata kelola agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta bersaing dengan fasilitas kesehatan di luar negeri.
Hal itu dikatakannya usai melantik Pengurus IKKESINDO Wilayah Sumut di Hotel, Haiho, Medan, Selasa (13/10). Dia didampingi Ketua IKKESINDO Wilayah Sumut dr. Azwan Hakmi Lubis, Sp.A., M.Kes.
Menurutnya, kehadiran konsultan kesehatan profesional dinilai penting untuk membantu rumah sakit mengidentifikasi persoalan, menganalisis kelemahan, merumuskan alternatif solusi, hingga mendampingi pelaksanaan perbaikan secara berkelanjutan.
Ketua Umum IKESINDO Pusat mengatakan, kompleksitas persoalan di sektor kesehatan membutuhkan dukungan tenaga konsultan yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya. Cakupan konsultasi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pelayanan rumah sakit, tetapi juga meliputi kesehatan masyarakat, administrasi dan kebijakan kesehatan, pembiayaan, hingga berbagai bidang penunjang.
Menurutnya, bidang konsultasi kesehatan mencakup empat komponen utama. Pertama, fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari klinik, puskesmas hingga rumah sakit. Kedua, kesehatan masyarakat, termasuk promosi kesehatan, kesehatan produktif dan kesehatan kerja.
Ketiga, administrasi kesehatan yang mencakup kebijakan serta pembiayaan kesehatan. Keempat, bidang penunjang kesehatan, seperti hukum kesehatan, arsitektur fasilitas kesehatan, industri farmasi dan bidang terkait lainnya.
Ia menegaskan, masyarakat maupun institusi yang membutuhkan jasa konsultan perlu memastikan tenaga profesional yang digunakan memiliki sertifikat kompetensi resmi, bukan sekadar sertifikat keikutsertaan pelatihan.
Sertifikasi kompetensi, jelasnya, diperoleh melalui proses penilaian atau asesmen oleh asesor bersertifikat untuk mengukur kemampuan seseorang dalam bidang tertentu. Proses tersebut berbeda dengan sertifikat pelatihan yang hanya menunjukkan seseorang telah mengikuti kegiatan pembelajaran.
“Dalam memilih konsultan, masyarakat harus bisa membedakan sertifikat pelatihan dengan sertifikat kompetensi yang resmi,” ujarnya.
Ia berharap kehadiran IKKESINDO di Sumut dapat berkontribusi terhadap pembangunan kesehatan daerah. Organisasi tersebut memiliki jaringan cabang di berbagai wilayah Indonesia dan ingin memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah serta institusi pelayanan kesehatan.
Menurutnya, konsultan kesehatan berperan sebagai pendamping yang membantu menganalisis persoalan, menyusun sejumlah alternatif penyelesaian dan mengawal penerapan solusi. Keputusan serta pelaksanaannya tetap berada pada institusi yang didampingi.
Ia menambahkan, persoalan kesehatan yang semakin kompleks tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan sumber daya internal. Karena itu, dukungan konsultan profesional dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat manajemen dan meningkatkan kualitas pelayanan.
Sementara itu, Ketua IKESINDO Wilayah Sumut, dr. Azwan Hakmi Lubis, Sp.A., M.Kes., mengatakan daerah ini memiliki sekitar 200 rumah sakit yang membutuhkan upaya peningkatan mutu secara berkelanjutan.
Menurutnya, IKESINDO Wilayah Sumut akan mendorong kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumut dan rumah sakit untuk membantu mengidentifikasi persoalan serta mencari solusi sesuai kebutuhan masing-masing fasilitas kesehatan.
Azwan mengakui, kepercayaan sebagian masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di luar negeri masih menjadi tantangan bagi rumah sakit di dalam negeri. Namun, kondisi tersebut harus dijawab melalui perbaikan kualitas pelayanan, bukan dengan menyalahkan masyarakat yang memilih berobat ke negara lain.
“Kalau pelayanan dan kualitas rumah sakit kita semakin baik, kepercayaan masyarakat juga akan meningkat. Kita harus objektif melihat kekurangan dan terus melakukan perbaikan,” ujarnya.
Ia menilai, peningkatan mutu pelayanan dan tata kelola rumah sakit perlu menjadi perhatian bersama. Kolaborasi dengan konsultan diharapkan dapat membantu rumah sakit mengatasi persoalan manajemen, mengoptimalkan sumber daya serta meningkatkan kualitas layanan bagi pasien
Azwan juga mengajak pemerintah daerah dan berbagai institusi kesehatan memanfaatkan tenaga ahli yang tersedia di Sumut. Konsultan kesehatan, katanya, dapat dilibatkan sesuai kebutuhan, termasuk ketika suatu daerah atau institusi merencanakan pembangunan rumah sakit.
Hadir Kepala Dinas Kesehatan Sumut Faisal Hasrimy. Dia mendukung dan berharap IKKESINDO Sumut berkolaborasi dengan pemerintah dan stakeholder kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Pemerintah sendiri, sebagai regulator terus berupaya dengan berbagai program dan anggaran. Di Sumut, sekitar 50 persen anggaran kesehatan Pemprovsu dialokasikan untuk membayar iuran jaminan kesehatan masyarakat. Besarnya alokasi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan perlindungan kesehatan bagi seluruh warga, terutama masyarakat miskin dan tidak mampu.
Namun, menurutnya, pelaksanaan program tersebut tidak terlepas dari berbagai dinamika di lapangan. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pengelola rumah sakit, tenaga medis, dan pemangku kepentingan lainnya agar kebijakan perlindungan kesehatan dapat berjalan optimal.
Ia berharap pelantikan pengurus IKKESINDO Wilayah Sumut periode 2026-2030 menjadi momentum memperkuat kontribusi para konsultan kesehatan dalam memberikan masukan, merumuskan solusi, dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
“Masalah kesehatan bukan hanya menjadi beban pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan semangat kolaborasi, mari kita selesaikan persoalan kesehatan, baik di tingkat nasional maupun daerah, agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang baik,” pungkasnya.(m32)





















