EDISIMEDAN.com, MEDAN-Laju deflasi di Sumut sebesar 0.13% (m to m) pada bulan Maret kemarin diproyeksikan tidak akan berlanjut pada bulan April ini. Potensi inflasi pada bulan April lebih terlihat dibandingkan dengan kemungkinan deflasinya. Ada baberapa hal yang harus diperhatikan dengan serius oleh pemerintah terkait dengan potensi laju Inflasi kedepan.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menagatakan bahwa ya”ng paling dikuatirkan adalah transmisi kenaikan harga sebagai dampak dari perang, yang membuat biaya logistik atau harga bahan baku menjadi lebih mahal. Sebagai contoh kenaikan harga plastik dan harga pupuk non subsidi belakangan ini. Ada kenaikan harga plastik untuk sekitar 25% yang dikeluhkan oleh pedagang.
“Termasuk kenaikan harga plastik mulsa sebagai sarana produksi pertanian. Disisi lain ada juga kenaikan pada harga pupuk, serta potensi kenaikan harga komoditas impor lain yang menjadi bahan baku utama produksi. Ditambah faktor cuaca ekstrim yang bisa memicu perubahan harga. Jadi ada potensi kenaikan harga atau inflasi yang lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga pokok produksi (HPP),” katanya.
Kalau HPP sudah naik, maka dikuatirkan akan memicu terjadinya kenaikan harga barang yang lebih permanen. Jadi bukan lagi masalah demand and supply sebagai acuan dalam memproyeksikan perubahan harga kedepan. Untuk sementara waktu ini HPP berpeluang memicu kenaikan harga, seraya menanti perkembangan sentimen perang kedepan.
Sebagai gambaran pada hari ini, produsen tempe mulai mengeluhkan kenaikan harga plastik yang harus disiasati dengan memperkecil ukuran agar harganya tidak naik. Sebagian petani khususnya petani cabai juga mulai risau dengan harga cabai yang murah dan turut dibarengi dengan kenaikan harga plastik mulsa dan pupuk. Dengan resiko ada kemungkinan luas areal tanaman yang akan dikurangi.
Dan apa yang terjadi pada hari ini pada petani berpeluang mendorong terjadinya kenaikan harga atau inflasi di masa yang akan datang. Meskipun perang AS – Iran behenti dalam dua atau tiga pekan mendatang. Di bulan April ini memang ada bantuan sosial beras dan minyak goreng yang kembali disalurkan melalui bulog.
Bantuan tersebut akan memberikan ruang bagi masing-masing rumah tangga untuk menyisihkan sebagian memenuhi kebutuhan lainnya. Ada sisi permintaan yang akan naik dan juga berpeluang mendorong kenaikan harga. Jadi ada potensi inflasi disini, dan sebaiknya keberhasilan pemerintah dalam menekan inflasi di Sumut pada bulan kemarin bisa kembali diulang pada bulan April ini.
Untuk besaran angka inflasinya sendiri saya perkirakan masih akan berada di bawah 0.23%, namun gambaran inflasi yang lebih akurat baru akan tersedia di pekan ketiga atau pekan keempat bulan April mendatang. (Red)
