EDISIMEDAN.com, MEDAN– Sumatera Utara, yang baru saja dilanda bencana alam berupa banjir dan tanah longsor pada akhir November 2025, menghadapi potensi kelangkaan pasokan bahan pangan pokok.
Kerusakan lahan pertanian masyarakat dan terputusnya jalur logistik dari dan ke sejumlah daerah di wilayah tersebut menjadi tantangan besar. Selain itu, tingginya permintaan masyarakat menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2026 diperkirakan akan semakin menekan pasokan pangan di pasar.
Untuk mengantisipasi hal ini, Perum Bulog Kanwil Sumatera Utara telah siap dengan langkah-langkah yang tepat. Sebagai salah satu operator yang melaksanakan penugasan dari pemerintah dalam pengelolaan pangan, Bulog memastikan bahwa ketersediaan pangan untuk masyarakat tetap terjaga meskipun dalam kondisi darurat.
Bulog Kanwil Sumut memiliki jaringan pergudangan yang sangat memadai, dengan 35 unit gudang yang tersebar di 18 titik wilayah. Gudang-gudang ini mampu menampung stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak 73.000 ton, yang dapat disalurkan ke berbagai daerah, termasuk wilayah yang terdampak bencana alam. “Gudang Bulog dimanapun selalu dalam kondisi memiliki stok yang cukup. Oleh karena itu, jika terjadi kejadian darurat, stok CBP ini siap didistribusikan,” ujar Budi, Pemimpin Wilayah Bulog Sumut.
Saat ini, stok beras CBP di Kanwil Sumut tercatat sebanyak 42.000 ton, termasuk yang berada di wilayah terdampak bencana alam seperti Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, yang masing-masing memiliki stok beras sebanyak 750 ton.
Pada 30 November 2025, Gubernur Sumut telah menetapkan status tanggap darurat di 16 kabupaten/kota, yang kemudian diikuti dengan penyaluran bantuan beras CBP sebanyak 6.527 ton untuk 1.864.857 warga yang terdampak bencana. Hingga saat ini, realisasi penyaluran bantuan beras CBP telah mencapai 4.551 ton untuk 1.300.434 orang terdampak. Sementara itu, 1.976 ton sisanya masih tersimpan di gudang Bulog dan siap untuk disalurkan kapan saja.
Selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Sumut, Bulog juga menyalurkan bantuan pangan untuk wilayah Provinsi Aceh yang terdampak bencana alam. Sebanyak 340 ton beras CBP telah dikirim ke sejumlah wilayah di Aceh, termasuk 90 ton untuk Aceh Tamiang, 200 ton untuk Takengon, dan 50 ton untuk Gayo Lues. Pengiriman beras ini dilakukan melalui jalur udara dengan bantuan BPBD, Pemprov Sumut, dan TNI AU, serta jalur laut dibantu oleh TNI AL melalui Kodaeral 1 Belawan.
Budi juga mengungkapkan bahwa selain untuk penanggulangan bencana alam, beras CBP yang dikelola oleh Bulog digunakan untuk program Bantuan Pangan (Bapang) dan Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Untuk periode alokasi Oktober-November 2025, sebanyak 757.680 Penerima Bantuan Pangan (PBP) telah menerima beras 20 kg dan minyak goreng 4 liter, yang mencakup 89,7% dari target.
Mengenai kondisi harga pangan di pasar, Budi menjelaskan bahwa Bulog telah melakukan pemantauan intensif ke pasar-pasar tradisional dan ritel modern di Sumut. Berdasarkan pemantauan tersebut, dipastikan bahwa pasokan pangan lancar dan harga pangan relatif stabil. Bulog terus berupaya menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan untuk mencegah terjadinya gejolak harga.
“Distribusi komoditas pangan seperti beras, minyak goreng, dan gula pasir terus berjalan dengan lancar. Kami terus memastikan agar harga pangan tetap stabil di pasaran, meskipun ada tekanan permintaan yang meningkat menjelang liburan,” tambah Budi.
Dengan kesiapan yang matang dan langkah-langkah antisipatif yang telah dilakukan, Bulog Sumut berkomitmen untuk terus memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, baik dalam kondisi normal maupun darurat bencana, serta menjaga kestabilan harga pangan menjelang akhir tahun.(red)
