Investor Pasar Modal Sumut Alami Lonjakan Sampai 1,49 Juta dalam 14 Tahun

EDISIMEDAN.com,  MEDAN– Dalam 14 tahun, wajah pasar modal Sumatera Utara berubah drastis. Dari hanya sekitar 14 ribu investor pada 2012, jumlahnya kini telah menembus 1.493.064 Single Investor Identification (SID) per Juli 2026.

Lonjakan tersebut sekaligus menempatkan Sumatera Utara sebagai provinsi dengan jumlah investor pasar modal terbesar di luar Pulau Jawa.

Kepala Kantor Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara, Muhammad Pintor Nasution, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap investasi pasar modal.

“Peningkatan investor di Sumatera Utara meningkat signifikan yang menjadikannya nomor satu di luar Jawa,” kata Pintor kepada wartawan di Medan, Kamis (10/9/2026).

Menurut dia, perkembangan itu tak lepas dari perubahan cara masyarakat mengakses pasar modal. Jika dahulu calon investor dari daerah harus datang ke Medan untuk membuka rekening investasi, kini layanan perusahaan sekuritas sudah semakin mudah melalui platform daring.

Perluasan edukasi juga ikut mengubah peta investor. Galeri Investasi (GI) yang sebelumnya banyak dibangun di perguruan tinggi kini merambah sekolah hingga kantor pemerintahan.

Secara nasional, jumlah GI yang sebelumnya sekitar 200 kini telah mencapai 1.500. Sementara di Sumut terdapat 28 GI dan tahun ini ditargetkan bertambah delapan lagi.

“Dengan adanya Galeri Investasi di kantor pemerintahan dan online trading sekuritas, sangat membantu,” ujar Pintor.

Pertumbuhan investor pun tidak hanya terkonsentrasi di Kota Medan. Dari total 1.493.064 SID di Sumut, Medan masih menjadi penyumbang terbesar dengan 396.261 investor.
Berikutnya Deliserdang 202.644 SID, Langkat 79.797 SID, Simalungun 76.266 SID dan Asahan 59.252 SID.

Menariknya, menurut Pintor, kelompok usia muda menjadi bagian terbesar dari basis investor Sumut. Investor berusia 18-25 tahun atau Gen Z mencapai 33,64 persen, disusul kelompok usia 26-30 tahun sebesar 24,38 persen dan usia di atas 31 tahun sebesar 24,50 persen.

Namun, besarnya jumlah investor muda tidak otomatis mencerminkan nilai dana yang ditanamkan. Pintor menyebut investor dengan dana lebih besar justru cenderung berasal dari kelompok usia yang lebih tua.

“Jumlah investor paling banyak yang muda, tapi jumlah dana yang kaya usia tua,” katanya.

Seiring bertambahnya jumlah investor, perusahaan asal Sumut yang masuk bursa juga mengalami perkembangan. Pada 2012 baru terdapat tiga emiten, sedangkan per Juli 2026 jumlahnya telah mencapai 12 perusahaan.

BEI Sumut juga mencatat masih ada perusahaan sektor kelapa sawit yang berencana melakukan pencatatan saham di bursa tahun ini.

Meski demikian, Pintor mengatakan tidak semua perusahaan yang berniat melantai di bursa dapat melanjutkan prosesnya. Persyaratan masuk bursa saat ini semakin ketat sehingga perusahaan harus memenuhi berbagai ketentuan yang ditetapkan.

Ia mencontohkan terdapat perusahaan yang sebelumnya berencana melakukan pencatatan saham namun tidak lolos persyaratan. Sementara Bank Sumut memilih mencabut sendiri pendaftaran yang sebelumnya telah diajukan.

Pintor meyakini, perkembangan pasar modal Sumut masih memiliki ruang yang besar untuk terus bertumbuh. Perluasan edukasi hingga ke daerah dan kemudahan akses transaksi menjadi bagian penting agar pertumbuhan jumlah investor juga diikuti pemahaman investasi yang baik.

“Untuk investor dan emiten, Sumut nomor satu setelah Jawa,” kata Pintor memungkasi. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *