Rocky Gerung Tantang Mahasiswa Unimed Berpikir Kritis, Jangan Takut Berbeda Pendapat

EDISIMEDAN.com,  MEDAN–  Perguruan tinggi tidak boleh hanya melahirkan lulusan berijazah, tetapi harus mampu membentuk generasi yang berani berpikir kritis, mempertanyakan kekuasaan, dan menguji setiap gagasan secara rasional. Pesan itu mengemuka dalam Seminar Nasional Algoritma Bernegara yang menghadirkan Rocky Gerung di Universitas Negeri Medan (Unimed), Jumat (23/10).

Di hadapan sekitar 1.500 mahasiswa yang memadati Auditorium Unimed, Rocky menegaskan pentingnya menjaga kebebasan berpikir agar demokrasi tidak dikuasai kepentingan uang dan politik praktis.

Seminar dibuka Rektor Unimed Prof. Dr. Ir. Baharuddin, ST, M.Pd. Turut hadir Plt. Deputi IV Badan Komunikasi Pemerintah RI Hariqo Wibawa Satria, Ketua Senat Unimed Prof. Dr. Martina Restuati, M.Si., para wakil rektor, dekan, dosen, serta panitia seminar yang diketuai Dr. Novita, M.Pd. Diskusi dipandu Dr. Tappil Rambe.

Bacaan Lainnya

Rocky menilai, kekuatan sebuah perguruan tinggi tidak semata-mata ditentukan jumlah mahasiswa maupun program studi, melainkan kemampuannya membangun tradisi berpikir kritis dan rasional.

Unimed yang memiliki sekitar 45 ribu mahasiswa, menurutnya, menyimpan potensi besar karena setiap mahasiswa membawa perspektif, pemikiran, dan harapan berbeda tentang masa depan Indonesia.

Namun, potensi tersebut hanya dapat berkembang apabila kampus memberikan ruang bagi kebebasan akademik dan keberanian menguji gagasan.

Dalam kehidupan akademik, mahasiswa tidak seharusnya sekadar menerima informasi atau menyetujui pendapat seseorang karena popularitas dan pengaruhnya. Setiap pernyataan perlu diperiksa melalui argumentasi, bukti, dan penalaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sikap kritis juga bukan berarti menolak semua pendapat. Kritik harus disertai alasan yang jelas, data yang relevan, serta kesediaan menerima koreksi ketika argumentasi yang disampaikan tidak didukung fakta.

Demokrasi Jangan Kalah oleh Kepentingan Uang

Rocky turut mengingatkan mahasiswa agar mampu membedakan kepentingan bernegara dengan logika pasar yang berorientasi pada keuntungan material.

Menurutnya, kehidupan bernegara seharusnya mengutamakan kepentingan bersama dan cita-cita kebangsaan. Sebaliknya, ketika politik terlalu didominasi kepentingan modal, keputusan publik berisiko menjadi bagian dari transaksi yang menguntungkan kelompok tertentu.

Ia menilai masyarakat tidak boleh menerima suatu gagasan hanya karena disampaikan tokoh berpengaruh, didukung pemilik modal, atau dikemas melalui kepentingan politik tertentu.

Karena itu, mahasiswa dan kalangan akademisi perlu mengambil peran dalam menguji gagasan, menilai rekam jejak, serta mencermati orientasi para calon pemimpin menjelang kontestasi politik mendatang.

Kampus tidak boleh hanya menjadi penonton ketika ruang publik dipenuhi manuver politik. Perguruan tinggi harus tetap menjadi tempat tumbuhnya pemikiran independen dan diskusi yang terbuka.

Mahasiswa Harus Berani Menguji Gagasan

Keberanian menyampaikan pertanyaan, mengemukakan kritik, dan berbeda pendapat merupakan bagian dari proses pembelajaran demokrasi di kampus. Akan tetapi, keberanian tersebut harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab intelektual.

Mahasiswa perlu membangun budaya diskusi yang tidak bertumpu pada siapa yang berbicara, melainkan pada seberapa kuat alasan dan bukti yang mendukung suatu pendapat.

Dalam konteks itu, seminar nasional tidak cukup hanya menjadi forum mendengarkan pemaparan narasumber. Kegiatan akademik perlu mendorong mahasiswa aktif berdialog, mengajukan pertanyaan, serta menguji argumentasi secara terbuka.

Demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang tidak mudah terpengaruh popularitas, propaganda, maupun kepentingan sesaat. Kemampuan berpikir mandiri menjadi modal penting agar masyarakat dapat menentukan sikap berdasarkan pertimbangan rasional.

Melalui penguatan tradisi berpikir kritis, Unimed diharapkan terus menjadi ruang pendidikan yang melahirkan generasi berintegritas, berani menyampaikan kebenaran, dan mampu mengawal kehidupan demokrasi secara bertanggung jawab.(red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *