EDISIMEDAN.com, BATUBARA – Cuaca hari Jumat (12/09/2025), cerah, tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin, angin pun tidak terlalu sepi, tidak juga terlalu berisik. Yang jelas, cuaca kondisi apapun, bagi para petani cabai di Desa Lubuk Cuik, Kabupaten Batubara, bahkan hingga yang berubah-ubah sekalipun, kini sudah mulai bisa diatasi satu persatu. Artinya, cuaca ekstrem tidak lagi menjadi halangan yang sangat berat sampai tidak ada solusinya.
Tahun-tahun sebelumnya, memang, para petani cabai di salah satu sentra penghasil cabai ini akan mengalami banyak kerugian, apalagi jika cuaca tidak bersahabat. Faktor cuaca bisa membuat petani panen sebelum waktunya, atau bisa jadi, hasil panen cabai tidak sempurna dari segi kualitas dan kuantitas. Atau, hal lainnya terkait sulitnya akses irigasi menuju lahan pertanian.
Persoalan-persoalan seperti ini nyatanya masih dialami para petani cabai. Cabai, nyatanya, sukses menjadi salah satu komoditas pertanian yang kerap kali menjadi faktor Inflasi suatu daerah, termasuk Sumatera Utara. Komoditas pertanian ini tidak bisa bertahan teralu lama, karena lebih cepat busuk disbanding rekan komoditasnya seperti bawang atau jagung. Maka tahun-tahun sebelumnya, kendala-kendala inilah selalu menjadi pekerjaan rumah yang cukup pelik bagi petani di desa ini.
Beruntung, dibukanya Desa Lubuk Cuik di Kabupaten Batubara oleh PT. Inalum membawa angin segar bagi petani-petani yang memang sudah bertani di sekitar area tersebut sejak lama. Setelah dibuka, warga petani Desa Lubuk Cuik ini kemudian mendapatkan harapan baru, mulai dari diberikannya CSR, pelatihan-pelatihan, pembinaan, bahkan jejaring usaha.
Pasutri (pasutri) petani cabai, Usleni dan suami, menjadi satu dari petani cabai yang berhasil sukses bertahan sebagai pelaku usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM) bertajuk “Turunan Cabe” setelah memperoleh berbagai arahan, bantuan dan pelatihan-pelatihan tersebut.
Usleni dan sang suami, Suwono, ditemui Jumat (12/09/2025) menceritakan bahwa mereka semangat menjalankan UMKMnya dari turunan cabai tersebut karena terbukti dapur mengepul setelah menjalankan sekitar 5 tahunan. Seperti pedasnya cabai yang membuat semangat, pasutri ini tidak patah semangat saat panen cabainya rusak ataupun tidak sesuai target. Sebab, setelah mendapatkan CSR dari Inalum, Suleni dan suami sudah tahu akan dihasilkan menjadi produk apa jika hasil panen cabai jika tidak sesuai harapan.
“Desa kami penghasil cabai, jadi, kami dan beberapa ibu-ibu, membuat apa yang bisa dihasilkan dari cabai itu kan untuk mengatasi inflasi atau pas harga cabai itu turun sebab kalau harga cabai mahal, kan lebih bagus, karena jual yang segar. Karena kita desa percontohan, jadi dibuatlah apa yang bisa dibuat dari Desa Lubuk Cuik dari cabai. Awalnya, saus cabai, abon ebi, dan kue bawang. Cuma, yang saat ini, lebih ke snack kue bawang, tapi memang orang lebih ke snack, kalau saus, kita kalah saing dengan brand besar. Sekarang, ada peyek kacang hijau, peyek kacang tanah, kentang Mustofa, sambel teri hijau, sambel bawang, bubuk cabai,” rincinya.
Kalau harga cabai turun, atau kualitas hasil panen rusak, maka komoditi tersebut akan diolah menjadi produk pangan dari turunan cabai. Dijelaskan Suleni, produk turunan cabai yang dihasilkan di UMKM ini ada yang berupa saus, abon, peyek, atau cemilan lain seperti kentang mustofa dan sebagainya. Setidaknya, jika cabai tidak bisa langsung dijual ke pasar, maka sisanya akan dibuat sebagai salah satu bahan di produk-produk yang mereka hasilkan.
“Kita kan panennya enam bulan sekali kan. Tapi kalau ada (usaha) ini, ada perputaran uangnya lebih cepat. Berbagai inovasi juga selalu dikembangkan, dan tentu, sebut Suleni, ide-ide kreatif tersebut didapatinya setelah ikuti pelatihan ataupun pembinaan dari Inalum dan lainnya. Namun, yang pasti, sebutnya, mereka mengaku sangat terbantu setelah menerima CSR dari PT Inalum, salah satunya mesin pemproduksi produk UMKM tersebut.
Menurut Usleni, sejak menerima bantuan CSR tersebut, seperti mesin penggiling cabai, timbangan kiloan, penggiling cabai bubuk, dan mesin-mesin lainnya, mereka bisa lebih cepat mengerjakan produknya, dan lebih banyak yang bisa dibuat (diproduksi). Selain itu, sebagai upaya menjaga kualitas dari setiap produknya, Usleni juga meminta para reseler/toko penerima untuk memberitahukan jika ada produk yang akan expired ataupun yang berubah warna.
“Expired itu enam bulan rata-rata untuk snack. Kalaupun belum 6 bulan, warnanya sudah berubah, kita minta toko tarik dan pasti kita ganti. Biasanya, dia berubah warna kalau dipajang dekat matahari,” ungkap Suleni.
Sebagai pasutri yang saat ini memiliki empat orang anak, tentu biaya yang dikeluarkan untuk rumah tangga tidak sedikit. Namun, diakui Usleni, sejak menekuni UMKM ini, dia dan suami tidak lagi takut dapurnya tidak mengepul karena gagal panen. “Anak ada 4, yang paling besar usia 23 tahun, yang ke 2 usia 21 tahun, yang ke 3 baru masuk kuliah, dan paling kecil kelas 6 sd. Sebelum usaha ini, kita juga petani. Jadi, sudah petani cabai, dan sampai sekarang. Kita kan awalnya memang petani cabai, petani bawang, petani padi,” ujarnya.
Meskipun, lanjutnya lagi, sebagai UMKM, dia dan suami harus terus berinovasi dengan cara mencari berbagai informasi yang bisa mempermudah dalam hal produksi, kemasan, serta pemasaran dan jejaring. Sehingga, bisa terus meningkatkan pemasukan ataupun menambah jumlah penjualan. Hal-hal tadi, menurutnya, didapatinya dari berbagai pelatihan yang diikuti.
“Kemasan kita awalnya bukan yang dap, yang model kemasan kilat, jadi kalau lama dipajang, dia jeglug (berubah warna). Terus kawan ngasi tahu, oh, di sini saja pesan kemasannya, jadi kita dapat kemasan dap yang bagus. Jadi, kita dari kawan ke kawan menjaring relasi. Kita tetap mencari relasi, tetap terus belajar. Karena, kalau kita tetap terus belajar dan ikut-ikut pendampingan (pelatihan sejenisnya), kita kan dapat kawan, dapat informasi baru. Bahwa, ternyata, oh, orang-orang itu seperti itu, kita harus seperti itu juga supaya jadi yang lebih baik lagi,” paparnya lagi.
Kini, meski sudah lima tahunan mengepulkan dapur dari turunan cabai, Suleni mengaku tetap akan berinovasi untuk mengembangkan usaha ini. Sebab, cita-citanya, jika usahanya terus meningkat, maka dia bisa memberdayakan para lansia (lanjut usia) yang kesulitan mendapatkan penghasilan. “Kita juga pingin, banyak penjualan, jadi warga warga sini bisa dipekerjakan. Pinginnya, kalau orang tua yang sudah tidak bekerja kan, untuk yang ringan kan bisa kita berdayakan,” ucapnya.
Saat ini, Usleni dan suami juga sudah memproses agar snack miliknya ke gerai-gerai waralaba ternama, sedang tahap kurasi. “Ke waralaba I dan A, sedang tahap kurasi, jadi nunggu masukkan saja, tinggal nunggu saja,” tutupnya. (Pit)
