Inflasi Sumut Melambung Tinggi, Pengamat Pesimis Pemerintah Bisa Kendalikan Inflasi Sesuai Target BI

EDISIMEDAN.com, MEDAN– Secara bulanan Sumut membukukan inflasi sebesar 0.89% pada Mei 2026. Tomat dan cabai masih penyumbang utama kenaikan laju tekanan inflasi. Padahal kenaikan harga pada komoditas tersebut lebih dikarenakan oleh normalisasi harga cabai setelah sempat dijual murah pada bulan April. Sementara untuk tomat lebih dikarenakan oleh faktor gagal panen di sejumlah wilayah di kabupaten karo.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan  pada  Rabu (3/6) bahwa  dampak dari pelemahan Rupiah yang berkontribusi terhadap kenaikan laju tekanan inflasi, BPS mencatat kenaikan pada harga produk elektronik seperti laptop maupun handphone. Saya menemukan ada banyak kebutuhan rumah tangga yang alami kenaikan, khususnya kebutuhan rumah tangga diluar makanan seperti keperluan mandi dan pakaian.
Selain itu, sejumlah harga kebutuhan pangan juga terdampak dari pelemahan Rupiah diantaranya adalah olahan kedelai seperti tahu dan tempe. Saya mendapatkan harga tempe alami kenaikan sekitar 20%, sementara untuk tahu dijual dengan ukuran yang lebih sedikit dibandingkan dengan sebelumnya. Sehingga berdasarkan hasil pemantauan tahu sejauh ini mengalami shrinkflation, walaupun fenomena tempe dijual dengan ukuran yang lebih kecil juga bisa ditemukan di pedagang.
Pelemahan Rupiah ditambah dengan kenaikan harga plastik telah menyeret kenaikan pada kebutuhan rumah tangga. Saya menilai dampak dari tekanan ekonomi seperti kondisi geopolitik, pelemahan Rupiah, kenaikan biaya logistik, hingga kenaikan bahan baku secara permanen membuat sejumlah kebutuhan rumah tangga akan bertahan dengan harga yang lebih mahal untuk waktu yang lama.
Sementara untuk komoditas pangan, sejauh ini masih belum sepenuhnya mengkompensasi kenaikan biaya input produksi. Namun musim panen beberapa komoditas yang terpapar dampak perang Iran dengan AS justru akan dimulai di bulan ini. Ditambah dengan kehadiran Godzilla el nino, maka potensi harga pangan kian memburuk sangat terbuka kedepan.
Pemerintah harus mengambil langkah sigap untuk memitigasinya. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengoptimalkan peran kerjasama antar daerah, memetakan wilayah yang berpotensi alami gagal panen, menambah pasokan untuk sejumlah komoditas strategis, atau segera menyediakan kebijakan subsidi untuk wilayah yang alami dampak terparah.
Ada ketidakpastian yang tinggi dalam pengendalian inflasi kedepan. Masalah geopolitik dan cuaca akan sangat berpengaruh terhadap volatilitas harga kebutuhan masyarakat kedepan. Tekanan inflasi tinggi masih menghantui setidaknya hingga tutup akhir tahun 2026 ini. Bahkan sejauh ini inflasi di Sumut secara tahunan (year on year) 4.35%. Berkaca pada realita yang penuh dengan ketidakpastian dan ancaman, saya pesimis pemerintah bisa menelkan inflasi sesuai dengan target Bank Indonesia di angka maksimal 3.5% hingga tutup tahun 2026. (Red)

You May Also Like

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *