Ketika Hutan Hilang, Masa Depan Terancam: Refleksi Akhir Tahun 2025

Rizky Adriansyah- Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara

Tragedi yang baru saja melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir tahun 2025 bukan sekadar bencana alam. Dengan lebih dari 1.154 jiwa melayang dan 165 orang hilang akibat bencana ini, kita harus bertanya: apa yang sebenarnya terjadi sebagai penyebab bencana ini?

Etika lingkungan mengajarkan kita untuk melihat alam sebagai entitas yang memiliki nilai dan hak. Hutan, sebagai penyangga kehidupan, berfungsi lebih dari sekadar sumber daya. Ia adalah sistem yang menjaga keseimbangan ekosistem, mengatur iklim, dan menyimpan air. Namun, ketika kita mengabaikan etika ini, keputusan yang diambil sering kali berujung pada kerusakan yang parah.

Hutan yang hilang berarti hilangnya kemampuan alam untuk menyerap air. Ketika hujan turun, air tidak lagi tertahan oleh akar-akar pohon, melainkan mengalir deras, menyebabkan banjir bandang. Di Aceh, 13 desa hilang tersapu, dan lebih dari 800 desa mengalami dampak langsung dari bencana ini. Longsor yang terjadi di lereng-lereng bukit, yang seharusnya dilindungi, menjadi bukti nyata bahwa penggundulan hutan tidak hanya merugikan lingkungan, tetapi juga mengancam nyawa manusia.

Banjir dan Longsor: Jejak Kebijakan yang Buruk

Banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukanlah kejadian yang terpisah dari kebijakan yang diambil. Ketika pemerintah memberikan izin kepada perusahaan untuk mengeksploitasi hutan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang, mereka secara tidak langsung menandatangani kontrak kematian bagi banyak orang. Jumlah korban sepertinya terus bertambah dan ini adalah hasil dari kebijakan yang tidak mempertimbangkan etika lingkungan.

Dampak dari bencana ini akan dirasakan oleh generasi mendatang. Mereka akan mewarisi lingkungan yang rusak, krisis air bersih, dan risiko bencana yang semakin meningkat. Anak-anak yang tumbuh di daerah terdampak akan hidup dalam ketakutan setiap kali hujan turun, dan mereka tidak seharusnya menanggung beban kesalahan yang bukan milik mereka.

Penutup: Hutan Adalah Kontrak Moral

Hutan bukan sekadar sumber daya; ia adalah kontrak moral antara kita dan masa depan. Ketika kita menebang pohon tanpa pertimbangan, kita sedang menukar keselamatan jangka panjang dengan keuntungan jangka pendek. Banjir dan longsor yang terjadi di Aceh dan sekitarnya adalah cermin dari pilihan kita. Jika kita ingin anak cucu kita hidup dalam dunia yang aman, kita harus berani mengambil langkah untuk melindungi lingkungan sekarang juga.

Kita tidak bisa lagi mengabaikan pertanyaan mendasar: apa yang kita lakukan hari ini untuk memastikan bahwa anak-anak kita sebagai generasi mendatang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang?

You May Also Like

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *