Tasya Kamila Ajak Anak Muda Berani Mulai, Kolaborasi, dan Bangun Mental Tanggu

EDISIMEDAN.com, MEDAN- Program Collabonation Talent Lab resmi hadir dan disambut antusias generasi muda Kota Medan. Kegiatan yang berlangsung di Garuda Spark Medan, Pos Bloc Medan, Sabtu (8/11/2025), ini menjadi wadah pengembangan diri sekaligus ruang kolaborasi bagi pelaku kreatif, startup, hingga mahasiswa yang ingin meningkatkan kompetensi dan kapasitas digital.

 

Bacaan Lainnya

Acara turut dirangkai dengan peresmian Garuda Spark Medan oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, yang menandai langkah besar dalam penguatan ekosistem inovasi di Sumatera Utara. Setelah peresmian, kegiatan dilanjutkan dengan inspiring talkshow yang menghadirkan figur publik dan pendiri Green Movement ID, Tasya Kamila, serta dipandu oleh MC sekaligus moderator, Timothy Marbun.

 

Mulai dari Hal Kecil dan Terus Bergerak

 

Dalam paparannya, Tasya mengungkap bahwa salah satu tantangan terbesar anak muda adalah rasa ragu yang kerap muncul saat hendak memulai sesuatu. Banyak yang takut beraksi karena khawatir terhadap penilaian orang lain dan kemungkinan gagalnya usaha tersebut.

 

“Ada saja rasa ragu, apalagi anak sekarang banyak action tapi sering khawatir persepsi orang. Tapi yang bisa kita kontrol adalah usaha dan bagaimana kita menghasilkan karya,” kata Tasya.

 

Menurutnya, yang terpenting bukan memikirkan berhasil atau tidaknya di awal, melainkan keberanian untuk mulai melakukan sesuatu.

 

Tasya juga mencontohkan pentingnya berjejaring dan kolaborasi, seperti bekerja sama dengan perusahaan teknologi, komunitas, atau lingkungan kreatif lain yang dapat saling bertukar ide dan memberikan energi positif.

 

“Kolaborasi itu penting. Misalnya dengan Indosat atau komunitas, kita bisa diskusi ide, sejauh mana perkembangan proyek, sampai mencari solusi. Hal-hal kecil yang kita jalani bisa membawa kita menuju mimpi besar,” ujarnya.

 

Ia menekankan pentingnya membuat target dan langkah nyata yang berkesinambungan. Tidak perlu muluk-muluk, cukup dimulai dari target mingguan, kemudian bulanan, hingga akhirnya terwujud dalam proyek besar.

 

Penolakan adalah Bagian dari Proses

 

Dalam sesi dialog, Tasya juga berbagi pengalaman pribadinya ketika menghadapi penolakan. Sejak kecil, ia terbiasa mengikuti berbagai casting dan proyek film. Tidak sedikit kegagalan yang dialami karena perbedaan visi atau ketidaksesuaian misi dengan pihak lain.

 

“Penolakan itu biasa banget. Dari kecil ikut casting, proyek film, tapi kadang misinya tak sejalan dengan perusahaan atau instansi, akhirnya ditolak,” ungkapnya.

 

Namun, menurut Tasya, pengalaman-pengalaman tersebut justru membentuk karakter dan ketahanan mental. Ia memandang penolakan sebagai bagian dari perjalanan menuju kesuksesan.

 

“Yang membentuk mentalitas kita adalah kenyataan bahwa rezeki tidak akan ke mana. Tapi kalau kita tidak ke mana-mana, ya rezekinya tidak datang. Kita harus memperjuangkan karena hanya kita yang tahu seberapa besar kekuatan kita untuk terus maju,” tegasnya.

 

Support System dan Keikhlasan

Tasya juga menekankan pentingnya keberadaan support system, baik dari teman, keluarga, mentor, hingga guru. Lingkungan yang baik memungkinkan seseorang mengenali kemampuannya dan berproses dengan lebih sehat.

 

“Dengan support system yang baik, kita bisa tahu kapasitas diri. Kalau kita sudah melakukan yang terbaik, apapun hasilnya itu sudah yang terbaik untuk kita,” ujarnya.

 

Menurutnya, kesadaran akan keikhlasan juga menjadi kunci penting. Ketika seseorang sudah berusaha maksimal, maka hasil akhir apa pun seharusnya tetap disyukuri sebagai bagian dari perjalanan.

 

Bangun Skill dan Jaringan Melalui Talent Lab

Selain talkshow, kegiatan ini juga menghadirkan sesi  AI Toolkit for Founders

Sementara itu, para peserta talkshow terlihat sangat antusias dan terinspirasi dengan motivasi Tasya mantan si penyayi cilik dan kini sudah menjadi dewasa dengan banyak prestasi. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *